rumah adat di samping berasal dari provinsi

Jikakamu sedang mencari jawaban atas pertanyaan: rumah adat di samping berasal dari daerah , maka kamu berada di tempat yang tepat. Disini ada beberapa jawaban mengenai pertanyaan tersebut. Silakan baca lebih lanjut. Pertanyaan. rumah adat di samping berasal dari daerah Jawaban #1 untuk Pertanyaan: rumah adat di samping berasal dari daerah Dilansirdari Ensiklopedia, Gambar rumah adat di atas berasal dari provinsigambar rumah adat di atas berasal dari provinsi Sumatra barat. Penjelasan. Kenapa jawabanya bukan A. Jawa timur? Nah ini nih masalahnya, setelah saya tadi mencari informasi, ternyata jawaban ini lebih tepat untuk pertanyaan yang lain. Dilansirdari Encyclopedia Britannica, nama rumah adat yang tampak pada gambar di samping berasal dari provinsi sumatera barat. Kemudian, saya sangat menyarankan anda untuk membaca pertanyaan selanjutnya yaitu Suku bangsa yang mendiami provinsi pada gambar disamping adalah? beserta jawaban penjelasan dan pembahasan lengkap. Apakahkamu lagi mencari jawaban dari pertanyaan Nama rumah adat yang tampak pada gambar di samping berasal dari provinsi?. Berikut pilihan jawabannya: Sulawesi Utara; Sulawei Barat; Sumatera Utara; Sumatera Barat; Kunci Jawabannya adalah: D. Sumatera Barat. Dilansirdari Ensiklopedia, gambar rumah adat di atas berasal dari provinsi Sumatra barat. Pembahasan dan Penjelasan A. Jawa timur adalah jawaban yang kurang tepat, karena sudah terlihat jelas antara pertanyaan dan jawaban tidak nyambung sama sekali. Schön Dass Wir Dich Kennenlernen Durften. Web server is down Error code 521 2023-06-16 123004 UTC What happened? The web server is not returning a connection. As a result, the web page is not displaying. What can I do? If you are a visitor of this website Please try again in a few minutes. If you are the owner of this website Contact your hosting provider letting them know your web server is not responding. Additional troubleshooting information. Cloudflare Ray ID 7d830fdd5b39b96f • Your IP • Performance & security by Cloudflare 38 Rumah Adat Provinsi di Indonesia Lengkap Gambar dan Penjelasan – Dikenal sebagai negara dengan geografi yang luas, Indonesia juga populer dengan keanekaragaman penduduk serta budaya dan tradisinya yang masih melekat erat. Salah satunya adalah rumah adat. Rumah adat merupakan salah satu budaya di Indonesia yang menunjukkan kekayaan budaya Indonesia. Tiap daerah di Indonesia memiliki rumah adat yang berbeda-beda, mulai dari bentuk hingga fungsi atau kegunaannya juga berbeda-beda. Simak informasi lengkapnya di bawah ini ya! Inilah Deretan Rumah Adat di Seluruh Provinsi di Indonesia Setiap suku bangsa di Indonesia mempunyai bahasa daerah, pakaian adat, senjata tradisional bahkan rumah adat sendiri-sendiri. Keberagaman rumah adat dengan desain yang berbeda-beda menandakan jika nenek moyang Bangsa Indonesia merupakan masyarakat yang cerdas. Mengingat, rumah adat tersebut didesain dengan gaya arsitek yang hanya dapat dilakukan oleh orang yang sudah ahli. Secara visual, bentuk rumah adat di Indonesia sungguh indah dan unik dan setiap desain rumah adat mengandung maknanya tersendiri. Tujuan dari pembuatan rumah adat tersebut disesuaikan berdasarkan adat-istiadat dan kebiasaan masyarakat setempat dan biasanya dilengkapi dengan simbol-simbol tertentu dalam pembuatannya. Rumah Adat di Pulau Sumatra 1. Rumah Adat Sumatera Utara “Bolon” Masing-masing suku di Sumatra Utara sebenarnya memiliki rumah adat sendiri, namun secara Nasional rumah adat Sumatra Utara diwakili oleh Rumah Adat Bolon. Di mana Rumah Adat Bolon ini merupakan rumah adat suku Batak. Rumah Adat Bolon berbentuk rumah panggung dan bagian kolongnya digunakan untuk memlihara hewan. Tiang rumah dibuat dari kayu gelondongan, dindingnya dari anyaman bambu, lantainya dari papan dan atapnya dari ijuk atau rumbia. Rumah ini terdiri dari 4 ruangan, yakni Jabu bong kamar kepala keluarga jabu soding kamar anak perempuan, jabu suhat kamar anak laki-laki dan tampar piring ruang tamu tampar piring ruang tamu. 2. Rumah Adat Sumatera Barat “Gadang” Rumah Adat gadang atau rumah godang adalah rumah adat Minangkabau yang hingga kini masih banyak di temui di Provinsi Sumatra Barat. Teringat bahwa kebudayaan melayu yang menyebar di sekitar Semenanjung Melaya. Seperti ini juga dapat kita temui hingga di beberapa Daerah di Malaysia, jadi seandainya anda melihat rumah gadang yang berada di negara tetangga, jangan anggap mereka telah mencuri kebudayaan kita, karena kebudayaan malaya telah menyebar di sekitar Semenanjung Malaya. 3. Rumah Adat Nanggroe Aceh Darussalam “Krong Bade” Rumah adat Aceh disebut rumoh Aceh atau Krong Bade, sebuah rumah panggung berbentuk persegi empat memanjang dari timur ke barat. Bangunan rumah dibuat dari kayu dan atapnya dari daun rumba, serta memiliki ornamen rumit. Rumoh Aceh memiliki 5 ruang. seuramo-ukeu serambi depan untuk tamu laki-laki, seuramo-likoot serambi belakang untuk tamu perempuan, rumoh-inong rumah induk di antara serambi depan dan belakang, rumoh-dapu dapur dan seulasa teras di bagian paling depan rumah. 4. Rumah Adat Bangka Belitung “Rakit Limas” Rumah Adat Rakit Limas memiliki aksen dn arsitektur yang hampir mirip dengan Rumah Limas. Hal ini dikarenakan karena kedua rumah adat ini masih berada di daerah yang sama yaitu Pulau Sumatra. Namun, hal yang paling mencolok yang membedakan keduanya adalah pada bagian rakitnya. Rumah Adat Rakit Limas merupakan rumah adat kebanggaan masyarakat Bangka Belitung yang mendiami Provinsi Sumatra Utara. Daerahnya yang merupakan kepulauan memberikan pembeda dan penanda dengan menambahkan aksen rakit pada desain rumah adatnya. Aksen rakit inilah yang menjadi ciri khas dan keunikan dari Rumah Adat Rakit Limas. 5. Rumah Adat Jambi “Panggung Kajang Leko” Rumah Adat Panggung Kajang Leko merupakan rumah adat yang berasal dari Provinsi Jambi. Rumah adat ini terbilang memiliki ruangan yang cukup lengkap karena terdiri dari 8 ruangan. Jogan, merupakan nama dari ruangan pertama yang biasa dimanfaatkan sebagai tempat untuk menyediakan air dan sebagai tempat istirahat. Sementara itu, ruangan kedua berguna sebagai tempat untuk menerima tamu laki-laki yang diberi nama serambi depan. Anak laki-laki akan tidur pada ruangan ketiga yang biasa disebut dengan serambi dalam. Pada ruang keempat terdapat kamar untuk pengantin yang diberi nama Emben Melintang. Pada ruangan kelima atau biasa disebut dengan serambi belakang berguna untuk menerima tamu perempuan sedangkan pada ruang keenam berfungsi untuk tempat tidur anak perempuan dan diberi nama leren. Terdapat juga tempat untuk menyimpan air dan untuk memasak yang diberi nama garang yang merupakan ruangan ketujuh. Pada ruangan terakhir atau ruang kedelapan terdapat tempat untuk memasak yang disebut dengan ruang dapur. 6. Rumah Adat Bengkulu “Rakyat” Rumah Rakyat merupakan rumah adat Indonesia yang berada di Provinsi Bengkulu dan merupakan rumah adat yang cukup lengkap walaupun tidak selengkap Rumah Adat Jambi. Terdapat sebuah ruangan yang disebut dengan ruang berendo yang berfungsi sebagai tempat menerima tamu. Jika diartikan dalam Bahasa Indonesia berendo artinya adalah beranda. Terdapat sebuah kamar utama yang biasa disebut dengan ruang blik gadang. Sedangkan, kamar untuk anak perempuan biasa disebut dengan ruang blik gadis dan kamar untuk anak laki-laki disebut dengan ruang laki. 7. Rumah Adat Sumatra Selatan “Limas” Rumah Adat Limas merupakan nama rumah adat yang berasal dari Provinsi Sumatra Selatan. Rumah adat yang satu ini memiliki gaya panggung, di mana perbedaan rumah panggung ini dengan rumah panggung lainnya terletak pada arsiteknya. Rumah Adat Limas memiliki arsitek yang lebih sederhana dan juga simple dengan ukuran yang tidak terlalu besar, dan edikit teras di bagian depan serta sampingnya. Sedangkan, bagian tengah rumah adat limas memiliki ruangan kecil yang bisa digunakan untuk tempat tinggal. 8. Rumah Adat Lampung “Nowou Sesat” Rumah Adat yang berasal dari Provinsi Lampung ini bernama Rumah Nowou Sesat. Di mana rumah adat ini awalnya dibangun dengan tujuan awal sebagai tempat beribadah. Nowou Sesat sendiri jika diartikan dalam Bahasa Indonesia mengandung arti rumah ibadah. Jika kita telusuri secara mendalam, Rumah Adat Nowou Sesat mempunyai makna yang sungguh baik. Setiap orang mempunyai keinginan untuk membangun sebuah keluarga dan mendidik anak-anaknya untuk menjadi anak yang berbakti dengan menggunakan pondasi ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Rumah Adat Nowou Sesat merupakan sebuah rumah panggung yang menggunakan ilalang sebagai atapnya. Namun sayangnya, Rumah Adat Nowou Sesat sudah sangat jarang ditemui. Sebenarnya jika dilihat dari arsitekturnya, Rumah Adat Lampung ini tergolong minimalis sehingga untuk pembuatan dan perawatannya pun tidak membutuhkan banyak biaya dan waktu pembuatannya pun tergolong cepat. jika dilihat dari arsitekturnya, Rumah Adat Lampung ini tergolong minimalis sehingga untuk pembuatan dan perawatannya pun tidak membutuhkan banyak biaya dan waktu pembuatannya pun tergolong cepat. 9. Rumah Adat Riau “Selaso Jatuh Kembar” Rumah Adat Selaso Jatuh Kembar merupakan nama rumah adat yang berasal dari Provinsi Riau. Ciri khas dari rumah adat yang satu ini adalah memiliki arsitektur yang sangat menarik. Rumah Adat Selaso Jatuh Kembar juga kerap disebut sebagai rumah Joglonya Riau, di mana rumah ini memiliki bentuk yang hampir mirip dengan rumah Joglo. Rumah Adat Selaso Jatuh Kembar mempunyai dua selasar, di mana selasar ini merupakan suatu tempat yang berfungsi sebagai tempat untuk bermusyawarah atau berkumpul dengan keluarga balai keluarga dimana letak lantainya lebih rendah dari pada ruang tengah. Namun sayangnya, kita sudah kesulitan untuk menjumpai Rumah Adat Selaso Jatuh Kembar saat ini, mungkin kita hanya dapat menjumpai sekitar satu hingga dua rumah adat saja di setiap desa. 10. Rumah Adat Kepulauan Riau “Belah Bubung” Provinsi Kepulauan Riau juga memiliki rumah adat yang unik yang diberi nama Rumah Belah Bubug dengan bentuk atap yang bervariasi. Beberapa bentuk atap Rumah Adat Belah Bubug adalah atap lipat yang berbentuk datar, atap lipat yang berbentuk curam ke bawah, atap yang bergabung melintang, atap panjang yang berbentuk sama sejajar, dan atap layar yang berbentuk menyusun. bentuk atap Rumah Adat Belah Bubug adalah atap lipat yang berbentuk datar, atap lipat yang berbentuk curam ke bawah, atap yang bergabung melintang, atap panjang yang berbentuk sama sejajar, dan atap layar yang berbentuk menyusun. Terdapat empat ruangan yang berada di dalam ruangan Rumah Belah Bubug yaitu ruang induk, ruang dapur, ruang penghubung antara ruang induk dan ruang dapur, dan ruang selasar. Rumah Adat di Pulau Jawa 1. Rumah Adat Banten “Badui” Masyarakat Banten juga memiliki rumah adat sendiri yang dibangun oleh Suku Badui, maka tak heran jika namanya Rumah Badui. Rumah adat ini memiliki keunikan yaitu tingginya yang tidak mencapai setengah meter namun lebih tinggi dari rumah panggung. Untuk pembuatannya, Rumah Adat Badui terbuat dari kayu dengan atap berupa ilalang, tiang yang terbuat dari batu dan dindingnya terbuat dari bambu. Kita masih dapat menemui Rumah Adat Badui dengan mudah di beberapa daerah pedesaan di wilayah Banten dan daerah pelosok Ujung Kulon. 2. Rumah Adat Madura “Tanean Lanjhan” Rumah Adat Tanean Lanjhang merupakan rumah adat yang berasal dari Madura, di mana rumah adat ini cenderung memiliki tampilan yang sederhana. Rumah adat ini memiliki beberapa bagian yaitu bagian depan dan bagian belakang, dimana bagian depan merupakan teras rumah dengan sisi kanan dan kiri memiliki dinding, sedangkan bagian belakang memiliki ruangan yang cukup besar. Pada umumnya rumah adat ini dibuat dengan menggunakan bahan yang mayoritasnya adalah kayu, sehingga kesan klasik serta elegan sangat terasa di rumah adat ini. Tak heran sampai sekarang rumah adat ini banyak digunakan oleh masyarakat Madura dalam membuat tempat tinggalnya. 3. Rumah Adat Jawa Timur “Joglo Situbondo” Terpengaruh oleh desain Joglo dari Jawa Tengah, rumah adat Jawa Timur memiliki bentuk yang serupa dan dikenal dengan sebutan Joglo Situbondo. Uniknya, rumah ini justru banyak ditemukan di Ponorogo. Rumah ini terdiri dari ruang depan pendopo, tengah, dan belakang dapur dan kamar tidur. Ciri khas Joglo Situbondo adalah ukiran pada pintu rumah yang diyakini bisa melindungi penghuninya dari malapetaka. Ruang tengah yang dianggap sebagai bagian rumah yang paling sakral selalu diberi penerangan sepanjang hari. 4. Rumah Adat Jawa Tengah “Joglo” Suku Jawa yang mendiami provinsi di bagian tengah Pulau Jawa juga memiliki rumah adat yang unik, yakni Rumah Joglo. Seperti halnya rumah adat yang lainnya, Rumah Joglo juga memiliki beberapa ruangan di dalamnya. Setiap ruangan memiliki fungsi tersendiri misalnya saja ruangan pendopo yang merupakan ruang terbuka yang biasanya berada di depan rumah. Ruangan pendopo ini berfungsi sebagai tempat untuk mempersilahkan tamu yang datang. Sebagai jalan keluar masuk rumah terdapat ruang samping atau biasa disebut dengan ruang pringgitan. Sedangkan, ruang utama atau ruang dalem merupakan ruangan yang berada di dalam rumah ruang keluarga. Untuk menyimpan segala sesuatu terdapat ruangan khusus yang diberi nama ruang sentong. Terdapat juga ruang untuk tidur keluarga yang berada di dalam rumah yang biasa disebut dengan ruang gandok tengen kanan dan ruang gandok kiwo kiri. 5. Rumah Adat Jawa Barat “Sunda” Rumah adat dari Provinsi Jawa Barat umumnya dikenal dengan nama Rumah Sunda. Di mana Rumah Adat Sunda ini memiliki bentuk seperti rumah panggung namun tidak terlalu tinggi. Pada bagian depan, Rumah Adat Sunda terdapat gelodog yaitu semacam tangga yang berfungsi sebagai jalan keluar masuknya rumah. Sedangkan, arsitektur untuk bagian atapnya terdiri dari berbagai jenis dengan keunikan yang berbeda-beda. Macam-macam desain atap yang biasa digunakan adalah perahu kemurep, atap jolopong, buka pongpok, jubleg, badak heuay, apit gunting, nangkup, dan tegong anjing. 6. Rumah Adat DKI Jakarta “Kebaya” Rumah Adat Kebaya merupakan rumah adat Provinsi DKI Jakarta yang khas dengan budaya Betawi yang sangat kental sehingga kita dapat dengan mudah mengenali jenis rumah adat ini. Dengan dibangunnya berbagai gedung-gedung besar di ibukota membuat Rumah Kebaya sudah sulit untuk dapat kita jumpai di Jakarta. Namun, jika kamu ingin melihat Rumah Adat Kebaya secara langsung, kamu dapat mengunjungi perkampungan Betawi tetapi jumlahnya pun juga sudah sedikit karena telah digantikan dengan bangunan rumah yang lebih modern. 7. Rumah Adat DI Jogjakarta “Bangsal Kencono” Rumah adat yang berasal dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta umumnya dikenal dengan nama Rumah Bangsal Kencono. Di mana Rumah Bangsal Kencono ini dulunya merupakan tempat tinggal bagi para bangsawan dan raja-raja Jawa. Terdapat banyak filosofi mengenai nilai-nilai kehidupan yang dapat kita peroleh melalui arsitektur rumah adat ini. Rumah adat yang biasanya terletak di sebelah tengah keraton kasultanan ini memiliki banyak ruangan yang memiliki simbol filosofi tersendiri yang diambil dari alam semesta, tingkah laku manusia, serta berbagai kehidupan yang terdapat di dalamnya. Rumah Adat di Pulau Bali 1. Rumah Adat Bali “Gampura Candi Bentar” Rumah Adat Gampura Candi Bentar merupakan rumah tradisional masyarakat Bali yang masih kental dengan budaya Hindu. Melalui desain rumah adat ini terlihat dengan jelas jika budaya dan adat istiadat masyarakat Bali benar-benar dijunjung tinggi. Provinsi Bali memang terkenal dengan budaya dan adat istiadatnya yang masih kental dan menyatu dengan Agama Hindu. Arsitektur Rumah Adat Candi Bentar hampir sama dengan Candi Hindu yang terdapat sebuah gapura sebagai pintu masuknya. Rumah adat ini memang terkesan berbeda dengan kebanyakan rumah adat yang ada di Indonesia lainnya. Kamu pun juga masih dapat menemukan Rumah Adat Candi Bentar dengan mudah di pulau Bali karena masyarakat Bali memang masih kuat memegang adat istiadatnya. 2. Rumah Adat Bali “Bale Gede” Rumah Adat Bale Gede merupakan rumah adat yang dimiliki oleh masyarakat kelas atas di kepulauan Bali. Biasanya rumah adat ini digunakan untuk beribadah umat Hindu. Namun, uniknya tidak hanya satu atau dua orang saja yang beribadah, melainkan secara bergerombol atau dalam jumlah banyak melakukan ibadah di Rumah Adat Bale Gede tersebut. Rumah adat ini memiliki beberapa tiang yang menyangganya, sedangkan tiga sisi tidak terdapat dinding dan satu sisi memiliki dinding. Satu dinding inilah yang biasanya menjadi arah umat hindu melakukan ibadah, biasanya di dekat dinding diberi banyak sesaji. 3. Rumah Adat Bali “Bale Tiang Sanga” Kerap disebut dengan nama Bale Duah, Rumah Adat Bale Tiang merupakan salah satu dari sekian banyak rumah adat yang terdapat di Bali. Rumah Adat Bale Tiang Sanga ini digunakan oleh masyarakat Bali dalam menyambut tamunya. Biasanya rumah adat tersebut terletak di bagian barat rumah utama, serta memiliki ruangan yang lebih bagus karena memang diperuntukkan untuk menyambut tamu. Desain serta bentuk dari rumah adat ini sangatlah menarik, dengan arsitektur khas yang berasal dari Bali membuat rumah adat tersebut nampak luar biasa. Apalagi ditambah dengan beberapa patung yang menghiasi di beberapa sudut rumah serta terdapat juga dua patung di dapat atau di pintu masuk rumah adat bale tiang sanga, membuat rumah ini kental dengan nuansa agama hindunya tersebut. 4. Rumah Adat Bali “Jineng” Memiliki masyarakat lokal yang sebagian besar bekerja sebagai petani, Bali juga memiliki rumah adat bernama Jineng. Di mana Rumah Adat Jineng ini digunakan oleh masyarakat Bali untuk menyimpan gabah yang belum kering maupun sudah kering. Rumah adat ini biasa juga kerap disebut dengan klumpu oleh masyarakat di Bali. Memiliki bentuk yang tinggi adalah salah satu ciri khas yang dimiliki oleh rumah adat jineng, Selain itu rumah adat jineng memiliki dinding yang terbuat dari kayu. Sedangkan untuk atapnya rumah adat tersebut terbuat dari ilalang yang tersusun secara rapi membuatnya tidak tembus panas maupun hujan. Rumah Adat di Pulau Kalimantan 1. Rumah Adat Kalimantan Barat “Panjang” Rumah Panjang merupakan rumah adat Suku Dayak yang mendiami Provinsi Kalimantan Barat. Rumah Panjang ini memiliki desain yang hampir menyerupai rumah panggung yang memanjang yaitu dengan bentuk anak tangga yang lebar dan tiang penyangga yang tinggi. Rumah adat ini bisa dikatakan telah punah karena kita akan sangat kesulitan untuk menemukan rumah adat ini di daerah asalnya. Jika kamu ingin melihat bentuk asli dari rumah panjang yang telah langka ini, kamu dapat mengunjungi TMII Taman Mini Indonesia Indah. 2. Rumah Adat Kalimantan Tengah “Betang” Rumah Betang merupakan rumah adat bagi masyarakat Kalimantan Tengah di mana rumah adat ini mempunyai desain yang hampir menyerupai Rumah Panjang yang berasal dari Kalimantan Barat. Perbedaan yang paling mencolok dari keduanya adalah Rumah Betang memiliki ukuran dan bentuk yang lebih besar dari Rumah Panjang dengan ukuran tanah yang lebih luas. Rumah Betang dibangun pada tanah yang memiliki ukuran luas dengan panjang 150 meter x lebar 30 meter tinggi 3-5 meter sehingga jika dilakukan penghitungan, rumah adat ini mampu menampung setidaknya 150 jiwa. Hal ini membuat Rumah Betang menjadi rumah adat terbesar kedua di Indonesia. 3. Rumah Adat Kalimantan Timur “Lamin” Rumah Lamin merupakan rumah adat bagi suku-suku yang mendiami wilayah Provinsi Kalimantan Timur seperti Banjar, Suku Dayak Timur dan Kutai. Desain dari Rumah Lamin hampir menyerupai Rumah Betang dan Rumah Dayak Panjang. Jika kita lakukan sebuah pengukuran, Rumah Lamin mempunyai ukuran yang besar dibanding Rumah Betang yaitu berkisar dua kali lipatnya panjang 300 meter x lebar 15 meter dan tinggi 3 hingga 5 meter. Rumah Lamin merupakan rumah adat terbesar pertama di Indonesia karena mampu menampung sekitar 40 hingga 45 kepala keluarga atau setara dengan 250 jiwa. 4. Rumah Adat Kalimantan Selatan “Bubungan Tinggi” Rumah Adat Bubungan Tinggi berasal dari Kalimantan Selatan dan merupakan rumah adat asli yang dimiliki oleh suku banjar. Rumah adat ini terbagi menjadi dua bagian, bagian depan merupakan teras dengan ukuran yang kecil dan tinggi lebih rendah, sedangkan bagian belakang merupakan bagian aula yang berbentuk segi empat. Rumah adat ini biasa digunakan sebagai tempat tinggal masyarakat, hal ini dikarenakan bentuknya yang sederhana. Dimana rumah adat bubungan tinggi terbuat dari bahan kayu baik dinding maupun lantainya tersebut. 5. Rumah Adat Kalimantan Utara “Baloy” Rumah Adat Baloy merupakan rumah adat yang berasal dari Kalimantan Utara dan merupakan hasil dari arsitektur asli suku tidung. Rumah ini memiliki teras yang menjorok ke depan, sedangkan bagian tengah rumah berbentuk persegi panjang yang mengarah ke samping. Untuk gayanya sendiri rumah adat baloy mengusung gaya rumah panggung, dengan dinding serta lantainya terbuat dari kayu. Ciri khas rumah adat ini adalah terdapatnya ukiran khas suku tidung yang terletak di bagian atap Rumah Adat Baloy. Rumah Adat di Pulau Sulawesi 1. Rumah Adat Sulawesi Utara “Pewaris” Salah satu suku asli yang mendiami Provinsi Sulawesi Utara berasal dari Minahasa dan mempunyai rumah adat yang menyerupai rumah panggung yang biasa disebut dengan Rumah Pewaris. Rumah Pewaris merupakan rumah welawangkoa atau rumah peninggalan para leluhur terdahulu. Pada bagian depan Rumah Pewaris, terdapat dua buah tangga yang berada di sebelah kanan dan kiri dengan tiang balok yang terbuat dari kayu seperti halnya rumah adat Indonesia yang lainnya. Sebagian besar rumah adat Indonesia menggunakan bahan kayu asli dalam proses pembuatannya. Terdapat keistimewaan tersendiri pada Rumah Adat Pewaris yaitu dalam hal pembagian ruangannya. Ada tempat khusus yang berfungsi sebagai tempat untuk menyambut kedatangan para tamu yang disebut dengan setup emperan. Terdapat ruangan yang berguna sebagai kamar tidur dan ruangan untuk menyimpan lumbung padi dan makanan yang diberi nama ruangan sangkor. 2. Rumah Adat Sulawesi Tengah “Tambi” Rumah Tambi merupakan nama rumah adat di Provinsi Sulawesi Tengah yang mempunyai desain hampir mirip dengan rumah panggung. Untuk membuat Rumah Tambi, diperlukan batu alam beserta kayu asli. Rumah Adat Tambi merupakan salah satu rumah adat yang memiliki ruangan yang lengkap. Terdapat sekat yang berfungsi sebagai pembatas antara ruangan yang satu dengan ruang yang lainnya yaitu ruang tamu, ruang dapur, dan ruang-ruang utama lainnya. Rumah Adat Tambi hanya boleh dibangun menghadap arah selatan atau utara saja berdasarkan kepercayaannya. Ada keunikan tersendiri dalam pembuatan rumah adat ini yaitu kita dapat dengan mudah mengetahui derajat status sosial seseorang dengan menghitung jumlah anak tangga. Jika jumlah anak tangga ganjil maka pemilik rumah merupakan orang biasa sedangkan jika jumlah anak tangga genap maka pemilik rumah merupakan orang yang besar atau kaya. 3. Rumah Adat Sulawesi Tenggara “Buton” Rumah Adat Buton adalah rumah adat di Indonesia yang berasal dari Provinsi Sulawesi Sumatra Tenggara. Dari berbagai bentuk seni konstruksi, bangunan Rumah Adat Buton ini cukup unik karena rumah adat ini di buat dengan empat lantai dan hanya menggunakan kait kayu, tanpa mengguanakan pasak dan paku. Semua itu menunjukan bahwasanya masyarakat Provinsi Sulawesi Sumatra Tenggara mempunyai keterampilan bangunan yang luar biasa. Keterampilan yang dimiliki merupakan warisan turun temurun, dari generasi awal sampai generasi saat ini. Kebanyakan masyarakat yang mahir dalam hal ini, hanya dari kalangan orang tua, yang mahir dalam pengerjaanya. 4. Rumah Adat Sulawesi Selatan “Tongkonan” Suku Toraja yang mendiami Provinsi Sulawesi Selatan juga memiliki rumah adat tersendiri yang diberi nama Rumah Tongkonan. Ciri khas paling menonjol yang dimiliki oleh Rumah Adat Tongkonan adalah bagian atapnya yang berbentuk seperti perahu dalam posisi terbalik dan pada bagian depan rumah terdapat tanduk kerbau. Terdapat keunikan tersendiri pada Rumah Adat Tongkonan yaitu rumah adat ini memiliki 2 fungsi. Fungsi pertama sebagai tempat untuk menyimpan mayat dan fungsi kedua sebagai tempat untuk tinggal dan diantara keduanya tidak dipisahkan sama sekali. 5. Rumah Adat Gorontalo “Dulohupa” Rumah Adat Dulohupa merupakan rumah adat yang berasal dari Provinsi Gorontalo. Rumah adat ini biasanya digunakan masyarakat sebagai tempat tinggal, namun ada pula yang menggunakannya sebagai tempat berkumpunya masyarakat. Ciri khas dari Rumah Adat Dulohupa ini adalah atapnya yang yang berseni tinggi, dengan arsitektur khasnya membuat rumah adat dulohupa cukup disukai untuk dijadikan sebagai tempat tinggal oleh masyarakat Gorontalo. Dalam proses pembuatannya bahan yang digunakan dalam pembuatan Rumah Adat Dulohupa adalah bahan kayu asli seperti halnya rumah adat di daerah Indonesia lainnya. Rumah Adat di Kepulauan Maluku 1. Rumah Adat Maluku “Baileo” Rumah adat yang berasal dari Provinsi Maluku bernama Rumah Baileo yang menunjukkan aksen keberagaman agama di wilayah Maluku. Selain itu, RumahAdat Baileo juga menggambarkan adat istiadat yang dilaksanakan di masyarakat setempat. Ukurannya yang lebih besar dibandingkan dengan rumah modern menandakan jika rumah adat ini bukan hanya berfungsi sebagai tempat untuk tinggal namun juga berfungsi sebagai tempat untuk bermusyawarah dan melakukan upacara adat. Beberapa sarana hiburan juga dapat dilaksanakan di Rumah Baileo. Keunikan lain dari rumah adat ini yaitu terdapat ruangan khusus yang berfungsi sebagai media penyimpanan benda-benda pusaka dan ruangan ini terdapat pada setiap ruangan yang ada. 2. Rumah Adat Maluku Utara “Sasadu” Rumah Adat Sasadu merupakan Rumah Adat yang berasal dari Provinsi Maluku Utara yang berbentuk seperti rumah panggung dengan desain yang sangat apik. Keunikan dari bangunan rumah adat ini adalah memiliki 6 pintu yang mempunyai fungsi tersendiri pada setiap pintunya. Terdapat dua pintu yang hanya boleh digunakan oleh perempuan saja begitu juga sebaliknya, terdapat dua pintu yang hanya boleh digunakan oleh laki-laki saja. Sedangkan dua pintu yang lainnya berfungsi sebagai jalan bagi tamu untuk keluar dan masuk rumah. Rumah Adat Sasadu merupakan rumah adat yang memiliki jumlah pintu terbanyak di Indonesia. Rumah Adat di Kepulauan Nusa Tenggara 1. Rumah Adat Nusa Tenggara Barat “Dalam Loka” Rumah Adat Dalam Loka sekilas terlihat sangat megah, dengan dua ruangan utama yang dibuat cukup tinggi dan besar. Ditambah lagi terdapat tangga sekaligus pintu masuk yang cukup besar dan memiliki atap tersendiri membuatnya terlihat sangat megah. Rumah adat ini tergolong memiliki arsitek yang sangat mengagumkan bahkan di zaman sekarang sekalipun. Rumah adat dalam loka sendiri berasal dari Nusa Tenggara Barat, tepatnya dimiliki oleh suku sasak yang bertempat tinggal di NTB tersebut. Rumah adat ini bisa digunakan oleh ketua adat atau petinggi di suatu wilayah yang terletak di Nusa Tenggara Barat Tersebut. 2. Rumah Adat Nusa Tenggara Timur “Musalaki” Rumah Adat Musalaki merupakan nama rumah adat yang berasal dari Nusa Tenggara Timur. Jika dilihat dari tampilannya, Rumah Adat Musalaki terlihat sangat tradisional. Hal ini dikarenakan atap Rumah Adat Musalaki terbuat dari kumpulan ilalang, di mana biasanya rumah adat tersebut memiliki atap yang menjulang tinggi ke atas. Walaupun berkesan klasik dan kuno, namun Rumah Adat Musalaki hanya dapat digunakan oleh petinggi di suatu daerah tersebut seperti ketua adat maupun para petinggi yang memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan di daerah tersebut. Tak heran jika rumah adat ini sangat jarang ditemui dan hanya tersisa beberapa saja di Nusa Tenggara Timur. Rumah Adat di Pulau Papua 1. Rumah Adat Papua “Honai” Rumah Honai merupakan rumah adat yang berasal dari Provinsi Papua dan terbuat dari kayu pada bagian dindingnya dan pada bagian atapnya menggunakan ilalang. Rumah Honai merupakan rumah adat yang terbilang sempit dan dibuat tanpa menambahkan jendela yang berfungsi sebagai celah cahaya. Hal ini bertujuan agar keadaan di dalam Rumah Honai tetap hangat. Karena sebagian besar masyarakat Papua tinggal di daerah dataran tinggi dan perbukitan yang dingin maka Rumah Honai memang sangat cocok untuk dijadikan tempat tinggal. 2. Rumah Adat Papua Barat “Mod Aki Aksa” Rumah Mod Aki Aksa merupakan rumah adat yang berasal dari Provinsi Papua Barat yang sering disebut dengan rumah kaki seribu. Hal ini dikarenakan pada bagian bawah rumah adat ini terdapat banyak penyangga. Pada dasarnya Rumah Adat Mod Aki Aksa dan Rumah Honai memiliki bentuk yang hampir sama namun Rumah Mod Aki Aksa berbentuk rumah adat panggung. Bahan alam yang dibutuhkan untuk membuat rumah adat Mod Aki Aksa antara lain ilalang, pelepah sagu, tali dari kulit pohon dan kayu. 3. Rumah Adat Teluk Cendrawasih “Lgkojei” Kemudian ada pula yang namanya Rumah Lgkojei, di mana rumah adat ini berasal dari Provinsi Teluk Cendrawasih. Rumah Adat Lgkojei sendiri berbentuk seperti rumah panggung dan memiliki banyak penyangga di bawahnya. Sama seperti Rumah Mod Aki Aksa, Rumah Adat Lgkojei juga dijuluki sebagai rumah kaki seribu karena banyaknya penyangga yang berada di bawah lantai. Perbedaan Rumah Adat Mod Aki Aksa dengan Rumah Adat Lgkojei adalah desain atapnya yang lebih modern dibanding rumah adat Papua Barat. Terdapat lubang cahaya dan banyak ventilasi yang berguna sebagai tempat pertukaran udara jadi bisa dikatakan jika Rumah Adat Lgkojei merupakan rumah adat yang telah berkembang. Semoga artikel di atas dapat sedikit menambah pengetahuan kamu tentang 38 rumah adat yang ada di seluruh provinsi di Indonesia ya! Alangkah baiknya sebagai masyarakat Indonesia, kita mengetahui seputar rumah adat yang ada di tanah air kita guna membantu melestarikan kekayaan budaya yang ada di Indonesi. Oh iya, jika kamu berencana ingin merantau di luar kota maka jangan lupa install aplikasi Mamikos di ponsel Android atau iOS kamu ya! Di aplikasi Mamikos, kamu bisa menemukan info sewa kost-kostan, apartemen, hingga rumah kontrakan di tanah air dengan praktis. Klik dan dapatkan info kost di dekatmu Kost Dekat UGM Jogja Kost Dekat UNPAD Jatinangor Kost Dekat UNDIP Semarang Kost Dekat UI Depok Kost Dekat UB Malang Kost Dekat Unnes Semarang Kost Dekat UMY Jogja Kost Dekat UNY Jogja Kost Dekat UNS Solo Kost Dekat ITB Bandung Kost Dekat UMS Solo Kost Dekat ITS Surabaya Kost Dekat Unesa Surabaya Kost Dekat UNAIR Surabaya Kost Dekat UIN Jakarta Rumah Adat – Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan budaya dan juga kesenian yang melimpah, dimana masing-masing provinsi mempunyai daya tarik dan keunikan tersendiri, salah satunya adalah rumah adat. Lalu apa saja sih rumah adat setiap provinsi yang ada di Indonesia? Simak penjelasan berikut ini mengenai Rumah Adat di Indonesia 34 Provinsi lengkap dengan penjelasan beserta gambarnya! Rumah Adat di Indonesia 34 Provinsi Seperti yang sudah dibahas pada ulasan diatas, bahwa Indonesia merupakan negara yang mempunyai beragam budaya baik pakaian, senjata, hingga rumah adat. Hal tersebut didukung dengan banyaknya provinsi yang ada di Indonesia sehingga budaya yang muncul akan berbeda-beda. Kali ini kita akan membahas budaya Indonesia yakni Rumah Adat. Rumah adat yang ada bukan hanya dijadikan sebagai ikon Setiap provinsi, melainkan juga dibuat untuk meyakinkan kepada penerus bangsa bahwa nenek moyang mempunyai keahlian dalam bidang arsitektur. Nenek moyang bukan hanya mementingkan kegunaan dari rumah, melainkan juga tetap memperhatikan nilai dan juga makna yang terkandung dalam rumah adat. Penasaran apa saja sih macam-macam rumah adat di Indonesia 34 provinsi? Simak penjelasan berikut ini ya! No Rumah Adat di Indonesia 34 Provinsi 1 Rumah Adat Aceh Rumoh Aceh 2 Rumah Adat Sumatera Utara Bolon 3 Rumah Adat Sumatera Barat Bagonjong 4 Rumah Adat Riau Melayu Selaso 5 Rumah Adat Kepulauan Riau Rumah Melayu Atap Limas Potong 6 Rumah Adat Provinsi Jambi Kajang Leko 7 Rumah Adat Sumatera Selatan Limas 8 Rumah Adat Bangka Belitung Rakit 9 Rumah Adat Bengkulu Bubungan Lima 10 Rumah Adat Lampung Nuwo Sesat 11 Rumah Adat DKI Jakarta Kebaya 12 Rumah Adat Jawa Barat Keraton Kasepuhan Cirebon 13 Rumah Adat Banten Baduy 14 Rumah Tradisional Jawa Tengah Joglo 15 Rumah Adat Daerah Istimewa Yogyakarta Bangsal Kencono 16 Rumah Tradisional Jawa Timur Joglo Situbondo 17 Rumah Tradisional Bali Gapura 18 Rumah Adat NTB Nusa Tenggara Barat Dalam Loka 19 Rumah Asal NTT Nusa Tenggara Timur Musalaki 20 Rumah Khas Kalimantan Barat Panjang 21 Rumah Daerah Kalimantan Tengah Betang 22 Rumah Adat Kalimantan Selatan Baanjung 23 Rumah Adat Kalimantan Timur Lamin 24 Rumah Adat Kalimantan Utara Baloy 25 Rumah Adat Sulawesi Utara Pewaris 26 Rumah Adat Sulawesi Barat Boyang 27 Rumah Adat Sulawesi Tengah Tambi 28 Rumah Adat Sulawesi Tenggara Buton Malige 29 Rumah Adat Sulawesi Selatan Tongkonan 30 Rumah Daerah Gorontalo Dulohupa 31 Rumah Khas Adat Maluku Baileo 32 Rumah Tradisional Papua Barat Mod Aki Aksa 33 Rumah Adat Papua Honai 34 Rumah Adat Maluku Utara Sasadu Rumah Adat Aceh Rumoh Aceh Gambar Rumoh Aceh Rumah adat di Indonesia yang ada pada provinsi Aceh adalah Rumah Keong Bade atau biasanya disebut dengan “Rumoh Aceh”. Ciri khas dari rumah adat Aceh terletak pada tangga rumahnya, dimana terdapat 3 tangga pada bagian depan rumah. Hak tersebut berguna untuk pintu masuk para tamu dan juga para warga yang tinggal disana. Tangga yang ada pada rumah ini mempunyai tinggi sekitar 2,5 hingga 3 meter dari tanah. Sedangkan jumlah dari anak tangga umumnya akan berjumlah ganjil, untuk dinding dari rumah ini juga ada ukiran yang khas dan telah disesuaikan dengan tingkat ekonomi dari para penghuninya. Rumah adat di Indonesia 34 provinsi tepatnya di Aceh ini mempunyai bentuk yang panjang dan juga memanjang dari timur ke barat. Sedangkan pada atap rumah tersebut hanya menggunakan daun rumba saja. Tentunya setiap bagian-bagian dari rumah pasti mempunyai fungsi sendiri-sendiri, baik dimulai dari tempat santai, ruang inti bahkan sampai gudang. Tetapi sayangnya sekarang rumah tradisional tersebut sudah jarang bisa kita temui karena memang perkembangan zaman yang semakin pesat. Rumah Adat Sumatera Utara Bolon Gambar Rumah Bolon Rumah ada di Indonesia 34 provinsi selanjutnya adalah Rumah adat bolon. Rumah adat bolon merupakan rumah khas dari suku Batak yang berasal dari Sumatera Utara. Dulunya rumah adat Sumatera Utara adalah tempat tinggal dari 13 raja yang berdomisili di wilayah Sumatera Utara. Beberapa raja tersebut diantaranya adalah Raja Naga Raja, Raja Atian, Raja Mogam dan masih ada beberapa lainnya. Sebenarnya ada beberapa jenis rumah adat yang ada pada wilayah Sumatera Utara ini, diantaranya ada Rumah Bolon Toba, Rumah Bolon Karo, Rumah Bolon Pakpak, Rumah Bolon Angkola, Rumah Bolon Toba dan juga ada Rumah Bolon Simalungun. Rumah adat Sumatera Utara mempunyai bentuk persegi empat dengan model panggung. Sedangkan untuk tingginya yakni sekitar 1,75 meter dan juga terdapat beberapa tangga yang ada di tengah badan rumah. Tangga tersebut berfungsi untuk memudahkan para tamu atau pemilik rumah untuk masuk kedalam rumah. Pada setiap sudut rumah juga terdapat tiang-tiang yang berguna sebagai penopang dari rumah tersebut. Sedangkan untuk atapnya sendiri mempunyai bentuk seperti pelana kuda. Rumah adat ini juga mempunyai fungsi dari masing-masing ruangnya, salah satunya adalah ruang jabu soding yang dikhususkan untuk anak perempuan. Rumah Adat Sumatera Barat Bagonjong Gambar Rumah Bagonjong Rumah adat di Indonesia 34 provinsi selanjutnya yakni berasal dari Sumatera Barat. Rumah adat Sumatera Barat tersebut mempunyai sebutan lain yakni “Rumah Bagonjong” atau biasanya masyarakat sekitar akan menyebutnya sebagai “Rumah Bannjung”. Jika kalian datang ke wilayah Sumbar, maka kalian masih dapat menyaksikan banyaknya rumah yang mempunyai bentuk seperti pada gambar, tetapi rumah tersebut hanya dapat ditemui pada beberapa daerah khusus saja. Rumah adat sumatera ini mempunyai bentuk persegi panjang dengan atapnya yang mirip seperti tanduk dari hewan kerbau. Atap dari rumah adat tersebut terbuat dari ijuk, tetapi jangan remehkan ketahanannya. Pada umumnya, rumah ini hanya mempunyai satu tangga saja, sedangkan pada dinding rumah tersebut juga mempunyai ukiran-ukiran yang menghiasi dengan motif bertemakan tumbuhan merambat, bunga, buah bahkan juga ada yang mempunyai bentuk akar berdaun. Rumah Adat Riau Melayu Selaso Gambar Rumah Melayu Selaso Rumah adat di Indonesia selanjutnya adalah Rumah Melayu Selaso yang berasal dari provinsi Riau. Rumah ini mempunyai ukiran-ukiran yang dijadikan sebagai ciri khasnya, dimana ukiran tersebut mengambil tema dari alam yakni lebah bergayut, pucuk rebung, selembayung dan masih banyak lainnya. Rumah adat Riau ini juga mempunyai nama lain yakni “Rumah Selaso Jatuh Kembar”. Fungsinya yakni bukanlah untuk ditinggali melainkan dijadikan untuk tempat musyawarah. Biasanya orang-orang akan menyebutnya sebagai “Balai Selaso Jatuh”. Rumah ini juga terdiri dari beberapa bagian ruangan. Ruangan tersebut diantaranya adalah ruang besar yang dijadikan sebagai tempat tidur, ruangan anjungan, ruangan dapur bahkan ada juga ruangan bersila. Sedangkan rumah ini mempunyai bentuk persegi panjang dengan ciri khasnya adalah rumah mempunyai bangunan yang lebih rendah daripada ruang tengahnya. Rumah Adat Kepulauan Riau Rumah Melayu Atap Limas Potong Gambar Rumah Melayu Atap Limas Potong Rumah adat selanjutnya adalah Rumah Melayu Atap Limas Potong yang berasal dari Kepulauan Riau. Rumah tersebut merupakan rumah panggung yang mempunyai bentuk memanjang ke arah belakang. Dengan dinding yang dibuat dari papan kayu dan disusun secara vertikal dengan atap rumah yang terbuat dari seng berwarna merah. Atap rumah tersebut mempunyai lima bumbungan. Rumah Adat Provinsi Jambi Kajang Leko Gambar Rumah Kajang Leko Rumah adat di Indonesia 34 provinsi selanjutnya yakni berasal dari provinsi Jambi. Rumah tradisional Jambi pada umumnya dikenal dengan nama Rumah panggung Jambi, bukan hanya itu rumah tersebut juga dikenal dengan sebutan Kajang Leko. Rumah ini terbuat dari bahan kayu. Kajang Leko atau rumah panggung mempunyai 8 ruangan, yakni ruang pertama yang disebut dengan Jogan. Fungsi dari ruangan Johan adalah untuk dijadikan sebagai tempat beristirahat dan juga tempat penyimpanan air. Sedangkan untuk ruangan kedua yakni serambi depan yang mempunyai fungsi sebagai tempat untuk menerima tamu khusus laki-laki. Ruangan yang ketiga adalah serambi yang mempunyai fungsi sebagai tempat tidur anak laki-laki. Ruangan selanjutnya adalah “Amben Melintang”, merupakan ruangan yang mempunyai fungsi sebagai kamar pengantin kemudian ada juga ruangan serambi belakang yang berfungsi sebagai tempat tidur dari anak perempuan yang belum menikah. Ada juga ruangan yang berfungsi sebagai tempat untuk menerima tamu perempuan, kemudian ada juga ruangan yang disebut sebagai “Garang” yang berfungsi untuk tempat penyimpan air juga dan yang terakhir adalah ruang dapur yang digunakan untuk memasak. Rumah Adat Sumatera Selatan Limas Gambar Rumah Limas Rumah tradisional selanjutnya adakah Rumah Limas yang berasal dari provinsi Sumatera Selatan. Rumah yang ada pada provinsi ini mempunyai bentuk seperti Limas dan juga ada beberapa filosofi budaya pada tingkatan dari bangunannya. Tingkatan tersebut biasanya dikenal dengan nama “bengkilas” oleh masyarakat setempat. Sehingga jika ada pada tamu yang datang ke wilayah ini, maka tamu tersebut akan diminta untuk singgah di teras atau pada ruangan atas. Hal tersebut merupakan tradisi dari warga sekitar. Jika anda datang kesini, maka anda dapat merasakan nuansa dari budaya setempat, bukan hanya itu Anda juga dapat merasakan nuansa budaya Palembang yang bisa disaksikan dari ukiran dinding rumah. Pada rumah ini terdapat 5 ruangan yang disebut dengan “kekijing” oleh masyarakat setempat. Apa sih lima ruangan itu? Ternyata, lima ruangan tersebut merupakan simbol dari lima jenjang kehidupan manusia. Apa saja jenjang tersebut? Jadi jenjang yang dimaksud adalah usia, bakat, jenis, pangkat dan juga asa martabat. Dimana pada masing-masing tingkatan akan mempunyai detail yang berbeda-beda. Misalnya adalah ruangan pada tingkat pertama yang disebut dengan “Pagar Tenggalung”, dimana tidak ada dinding pembatas dan ruangan tersebut menyuguhkan nuansa yang santai karena biasanya bisa digunakan untuk menerima tamu. Rumah Adat Bangka Belitung Rakit Gambar Rumah Rakit Rumah adat selanjutnya yakni berasal dari Bangka Belitung. Rumah Rakit Limas merupakan rumah yang berasal dari Bangka Belitung, sebenarnya ada tiga jenis rumah adat Bangka Belitung. Diantaranya adalah Rumah Rakit, Rumah Limas dan juga ada Rumah Panggung. Ketiga rumah tersebut mempunyai sentuhan dari adat Melayu pada arsitekturnya. Saat ini rumah rakit lah yang banyak dibangun di pinggir sungai Musi, dimana rumah tersebut ditempati oleh masyarakat keturunan Tionghoa. Banyak yang menganggap bahwa bangunan rumah ini sudah ada sejak pada zaman kerajaan Sriwijaya. Dimana cikal bakalnya dimulai dari rumah rakit yang ada pada wilayah Sumatera Selatan dan selanjutnya rumah tersebut dikenal sebagai rumah adat dari provinsi Bangka Belitung. Rumah rakit ini terbuat dari bahan material bambu. Tetapi bukan hanya sekedar bambu ya, tetapi bambu yang digunakan adalah bambu Manyan yang mempunyai ukiran besar dan juga mempunyai ketahanan yang sangat kuat. Sedangkan untuk rumah Limas mempunyai nilai tertentu yakni mencerminkan dari status sosial pemilik rumah. Hal tersebut dikarenakan pemilik dari rumah pada umumnya adalah keturunan keluarga kesultanan Palembang, saudagar kaya atau juga pejabat pemerintahan Hindia Belanda. Rumah Adat Bengkulu Bubungan Lima Gambar Rumah Bubungan Lima Rumah adat selanjutnya adalah Rumah Bubungan Lima yang berasal dari Bengkulu. Rumah ini pada umumnya sama dengan rumah panggung yakni rumah yang ditopang oleh beberapa tiang-tiang lainnya. Rumah ini pada umumnya tidak seperti rumah lainnya, melainkan rumah tersebut akan cenderung digunakan untuk tempat acara dari masyarakat Bengkulu. Dimana pada rumah tersebut terdapat tiga bagian yang ada, yakni pada bagian atas, tengah dan juga bawah dan setiap bagian tersebut mempunyai fungsi masing-masing. Pembangunan rumah ini menggunakan material utama yakni kayu, tetapi kayu yang digunakan bukan sejenis kayu biasa. Kayu yang digunakan adalah kayu Medang kemuning, dimana kayu tersebut dianggap mempunyai kualitas khusus. Jika ada orang yang bertamu di sana, maka diharuskan untuk menggunakan tangga pada saat memasuki rumah ini. Pada saat ini, rumah tersebut tidak hanya dijadikan sebagai aset atau peninggalan dari nenek moyang, melainkan juga dihadirkan sebagai objek wisata Bengkulu. Rumah Adat Lampung Nuwo Sesat Gambar Rumah Nuwo Sesat Rumah adat selanjutnya berasal dari Lampung. Rumah ini dikenal dengan nama Nuwo Sesat, dimana rumah tersebut dibangun dengan tujuan untuk dijadikan sebagai tempat pertemuan adat bagi penyimbang atau purwatin untuk melakukan musyawarah. Rumah ini mempunyai ciri khas pada bentuknya, yakni bentuk dari rumah tradisional Lampung adalah panggung. Pada sisi bangunan rumah terdapat ornamen yang dianggap khas dan juga berbeda. Rumah ini pada umumnya akan berukuran sangat besar, tetapi pada zaman sekarang rumah ini dibangun dengan ukuran yang cenderung lebih kecil daripada ukuran rumah Lampung aslinya. Rumah Adat DKI Jakarta Kebaya Gambar Rumah Kebaya Rumah adat selanjutnya yakni berasal dari DKI Jakarta. Rumah adat Kebaya merupakan rumah tradisional DKI Jakarta yang mempunyai ciri khas pada atapnya. Dimana atap dari rumah tradisional ini mempunyai bentuk menyerupai pelana yang terlipat. Jika dilihat dari samping, maka kalian akan melihat lipatan-lipatan kebaya atau corak dari ornamennya yang langsung mengusung tema corak khas dari suku Betawi. Rumah kebaya ini disebut sebagai bagian dari Keraton Cirebon. Dimana rumah adat ini juga masih terlihat bagus, meskipun pada faktanya rumah ini sudah mempunyai usia yang sangat tua. Rumah Adat Jawa Barat Keraton Kasepuhan Cirebon Gambar Keraton Kasepuhan Cirebon Rumah adat dari provinsi Jawa Barat adalah Keraton Kasepuhan Cirebon. Rumah ini berdiri pada tahun 1529 dengan pendirinya adalah Pangeran Cakrabuana. Rumah ini merupakan perluasan dari keraton sebelumnya yakni keraton Pakungwati. Pintu gerbang utama pada keraton ini terbilang cukup unik, sedangkan di dalam gerbang keraton juga terdapat kreteg pangrawit. Ada 2 halaman yang bisa dikunjungi di tempat ini. Dua halaman tersebut terdiri dari halaman pertama dan juga halaman kedua. Disini anda bisa menyaksikan suasana dan juga menikmatinya dimana kalian hanya perlu berkeliling-keliling sesuai rute yang sudah ada. Rumah Adat Banten Baduy Gambar Rumah Baduy Baduy mungkin sudah tidak asing bagi kalian. Rumah Baduy merupakan rumah tradisional yang berasal dari provinsi Banten dimana penghuni dari rumah tersebut adalah suku Badui. Suku Baduy merupakan kelompok etnis asli Banten yang berdomisili di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Rumah ini mempunyai bentuk Julang ngapak dimana bentuk tersebut dibuat seperti rumah panggung dengan bahan material dari bambu. Simbol dari rumah Baduy adalah kesederhanaan dari masyarakat setempat. Fungsi dibuatnya rumah tersebut adalah digunakan sebagai tempat berlindung dan juga tempat untuk mendapatkan kenyamanan. Bukan hanya sederhana, suku Baduy juga dikenal dengan kekeluargaan yang sangat kental. Hal tersebut didukung dengan masyarakat yang selalu bergotong-royong. Rumah ini mempunyai tiga bagian utama yakni sosoro depan, telas tengah dan juga asa Imah belakang dan masing-masing dari bagian tersebut mempunyai fungsi sendiri-sendiri. Rumah Tradisional Jawa Tengah Joglo Gambar Rumah Joglo Rumah adat selanjutnya yakni berasal dari Jawa Tengah, rumah ini adalah Rumah Joglo. Rumah ini mempunyai beberapa ruangan, dimana ruangan depan disebut dengan pendopo yang mempunyai fungsi sebagai tempat untuk menerima tamu yang sedang berkunjung. Ciri khas dari rumah adat tradisional ini adalah pada corak ornamennya. Corak tersebut mempunyai sentuhan ke-jawaan, sehingga tidak heran karena memang rumah ini mengambil tema budaya suku Jawa yang diimplementasikan pada bagian-bagian sisi rumah. Rumah Adat Daerah Istimewa Yogyakarta Bangsal Kencono Gambar Rumah Bangsal Kencono Rumah adat di Indonesia selanjutnya berasal dari provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Rumah pada provinsi ini disebut dengan nama Rumah Bangsal Kencono, rumah joglo. Rumah joglo merupakan rumah adat yang sudah populer dengan sebutan tempat tinggal dari raja, rumah ini mempunyai arsitektur yang tidak berbeda jauh dari bentuk rumah joglo. Perbedaan rumah tradisional ini dengan rumah joglo adalah rumah tersebut lebih luas, lebat dan juga besar. Sehingga jika kalian ingin berkunjung kesana, maka akan merasakan nuansa dari negara lain. Arsitektur pada bangunan juga dipengaruhi oleh gaya bangunan beberapa negara antara lain Portugis, Belanda dan juga Cina. Tetapi jika kalian merasakan lebih dalam lagi. maka desain yang ada sebenarnya cenderung lebih ke sentuhan adat Jawa. Sentuhan adat Jawa tersebut dapat dilihat jelas dari ukiran yang ada pada tiang, atap dan juga pada dinding bangunannya. Rumah ini dibuat dari material berupa genteng sirap atau tanah. Dinding tersebut dibuat dari kayu yang mempunyai kualitas tinggi. Sedangkan warna tiangnya pada umumnya adalah warna hijau tua atau hitam, sedangkan tiang yang dijadikan sebagai penopang pada umpak batu mempunyai warna keemasan. Rumah Tradisional Jawa Timur Joglo Situbondo Gambar Rumah Joglo Situbondo Rumah adat selanjutnya yakni berasal dari Provinsi Jawa Timur. Rumah tersebut biasanya disebut dengan Rumah Joglo Situbondo. Rumah ini dibangun dengan tujuan yakni digunakan untuk tempat tinggal dan juga beberapa digunakan untuk peninggalan bersejarah. Rumah Joglo Situbondo memang termasuk kedalam salah satu situs bersejarah peninggalan dari nenek moyang yang dulunya tinggal di wilayah Jawa Timur. Nuansa dari sejarah akan terlihat dengan jelas pada bentuk dan juga tata ruang dari rumah ini. Ciri khas yang ada pada rumah ini adalah kesederhanaan dari ukiran dan juga bentuknya. Tetapi, meskipun rumah tersebut sederhana akan tetapi masih mempunyai makna seni yang sangat tinggi seperti rumah tradisional lainnya. Bentuk dari rumah ini adalah Limas atau dara Gepak. Karena sesuai dengan namanya, rumah ini ditemukan di wilayah Situbondo, Jawa Timur dan salah satu daerah yang juga banyak ditemukan nya adalah pada daerah Ponorogo. Rumah Tradisional Bali Gapura Gambar Rumah Gapura Rumah adat selanjutnya yakni berasal dari Bali, yang dinamakan dengan Rumah Gapura. Rumah ini merupakan bangunan yang dijadikan gerbang dari rumah-rumah tradisional Bali. Gapura sendiri mempunyai dua buah candi dengan bentuk serupa dengan fungsi sebagai pembatas dari sisi kanan dan juga sisi kiri pintu masuk ke daerah pekarangan. Dimana keduanya saling berpisah, hal tersebut dikarenakan memang tidak mempunyai atap. Bentuk dari rumah tradisional ini adalah gapura atau dua buah candi yang terpisah dan menyebabkan bentuk simetri. Candi tersebut selalu menduduki posisi di luar dari puri atau pura. Rumah Adat NTB Nusa Tenggara Barat Dalam Loka Gambar Rumah Dalam Loka Rumah adat di Indonesia selanjutnya berasal dari Nusa Tenggara Barat yang dinamakan Dalam loka. Rumah ini dibangun sesuai dengan fungsinya yakni digunakan sebagai pusat pemerintahan dan juga tempat tinggal dari raja-raja Sumbawa pada zaman dahulu. Ukuran dari rumah Dalam Loka adalah cukup besar, dimana bangunan tersebut ditopang oleh 99 tiang. 99 tiang tersebut mempunyai filosofi sebagai lambang sifat Allah atau Asma’ul Husna. Banyak sekali ruangan yang ada, diantaranya adalah Lunyuk Agung, Lunyuk Mas, Ruang Dalam, Ruang Sidang, Kamar Mandi dan masih banyak lainnya. Tentunya masing-masing ruangan tersebut mempunyai fungsi sendiri-sendiri. Seperti misalnya pada Ruang Lunyuk Agung yang mempunyai fungsi sebagai tempat musyawarah, acara pertemuan adat, keagamaan dan juga resepsi. Rumah Asal NTT Nusa Tenggara Timur Musalaki Gambar Rumah Musalaki Rumah adat selanjutnya berasal dari Nusa Tenggara Timur yang dinamakan dengan Rumah Musalaki. Rumah Musalaki merupakan rumah yang didirikan dengan tujuan sebagai tempat tinggal bagi kepala suku yang ada di sana. Dimana suku yang dimaksud adalah suku Ende Lio yang merupakan pemilik aslinya. Rumah ini juga bisa dikatakan sebagai lambang dari provinsi NTT. Maka dari itulah, selain difungsikan sebagai tempat tinggal, rumah ini juga difungsikan untuk kegiatan musyawarah adat, tempat ritual upacara adat dan masih ada lagi lainnya. Rumah ini mempunyai arsitektur yang dibedakan menjadi atas dan juga bagian bawah. Dimana pada bagian atas terdapat struktur Wisnu dan atap, sedangkan pada bagian bawah terdapat struktur pondasi Kuwu Lewa dan Maga. Masing-masing struktur tersebut tentunya mempunyai detail yang berbeda-beda. seperti misalnya struktur maha yang dibuat dari bilah papan yang tersusun sejajar dengan sistem satu arah. Rumah Khas Kalimantan Barat Panjang Gambar Rumah Panjang Rumah adat selanjutnya berasal dari Kalimantan Barat yakni Rumah Pajang. Ukuran dari rumah ini adalah cukup besar dan terdiri dari bangunan atas dan juga bawah, dengan desain yang sangat keren dari nuansa modern dan juga nuansa tradisional yang dibuat seakan menyatu pada rumah ini. Ciri khas dari rumah ini terletak pada corak dan juga arsitekturnya. Pembangunan dari rumah juga mengambil tema budaya suku Dayak pada sentuhan desainnya. Sentuhan itu bisa disaksikan pada bagian-bagian sisi dari bangunan rumah ini. Rumah Daerah Kalimantan Tengah Betang Gambar Rumah Betang Rumah adat selanjutnya yakni berasal dari provinsi Kalimantan Tengah yang dihuni oleh masyarakat suku Dayak. Rumah tersebut adalah rumah Betang, rumah ini mempunyai bentuk panggung dan memanjang. Panjang bangunan tersebut berkisar antara 30 hingga 150 meter. Lebar dari rumah ini bisa mencapai 3 hingga 5 meter dan biasanya rumah Betang akan dihuni oleh 100 hingga 159 jiwa. Dalam proses pembangunan ini pada umumnya masyarakat Dayak akan mempunyai beberapa persyaratan khusus. Dimana persyaratan pertama adalah hulu harus searah dengan matahari terbit, sedangkan hilirnya akan mengarah ke matahari terbenam. Hal tersebut merupakan simbol yang menggambarkan kerja keras dalam mempertahankan hidup. Beberapa nilai budaya yang ada pada rumah ini adalah makna kehidupan, pekerjaan, amal perbuatan dan masih banyak lainnya. Rumah Adat Kalimantan Selatan Baanjung Gambar Rumah Baanjung Rumah adat selanjutnya berasal dari Kalimantan Selatan yang dinamakan dengan Rumah Baanjung. Rumah ini merupakan rumah yang khas dari suku Banjar yang sangat populer sehingga disebut sebagai ikon dari rumah Banjar. Model rumah ini mirip dengan model rumah Bapang, rumah tradisional Betawi. Tetapi bedanya adalah rumah bubungan dibuat dengan gaya panggung yang mempunyai anjung pada kanan dan juga kiri pada bangunannya. Ada beberapa ciri yang ada pada rumah ini, ciri tersebut antara lain. Atap yang berbentuk Sindang langit tanpa adanya plafon. Kedua adalah tangganya naik dan berjumlah ganjil, dan yang terakhir adalah pada pamedangannya terdapat lapangan yang mengelilingi dengan kandang rasi berukir. Rumah Adat Kalimantan Timur Lamin Gambar Rumah Lamin Rumah adat selanjutnya berasal dari provinsi Kalimantan Timur, rumah tersebut dinamakan dengan Rumah Lamin. Rumah lamin merupakan identitas dari masyarakat suku Dayak yang tinggal di Kalimantan Timur. Panjang bangunan rumah ini mencapai 300 meter dengan lebar 15 meter dan tunggu mencapai 3 meter. Masyarakat biasanya juga menyebut rumah ini dengan nama rumah panggung panjang. Gak tersebut dikarenakan bangunan rumah cukup besar dan bisa menampung 12 hingga 39 keluarga. Dimana jika dijumlahkan bisa mencapai 100 jiwa. Rumah adat ini mempunyai ciri khas yang mudah, sehingga dapat langsung dikenali oleh orang-orang. Pada bangunan rumah ini juga terdapat banyaknya ukiran dan juga gambar-gambar, dimana pada masing-masing ukiran tersebut mempunyai makna bagi masyarakat suku Dayak di Kalimantan. Masyarakat disana beranggapan bahwa ukiran dan juga gambar tersebut mempunyai fungsi bisa menjaga keluarga mereka dan marabahaya yang datang. Sedangkan untuk warna yang khas dari rumah tersebut adalah kuning dan juga hitam serta warna lainnya yang tentunya mempunyai makna. Seperti warna kuning yang mempunyai makna kewibawaan. Rumah Adat Kalimantan Utara Baloy Gambar Rumah Baloy Rumah tradisional selanjutnya berasal dari Kalimantan Utara yang dinamakan dengan Rumah Baloy. Rumah tersebut mempunyai desain yang unik dan juga terinspirasi dari rumah tradisional suku Tidung yang ada. Sehingga jika diperhatikan dan dibandingkan maka keduanya hampir mempunyai kesamaan. Ciri khas dari rumah ini adalah dari segi arsitekturnya. Arsitektur yang ada pada rumah tradisional ini dianggap lebih bagus dan juga indah jika dibandingkan dengan rumah tradisional yang ada di Kalimantan. Sehingga sebab itulah rumah ini bisa dijadikan sebagai aset sejarah yang wajib dikunjungi apabila berkunjung ke Kalimantan Utara. Rumah Adat Sulawesi Utara Pewaris Gambar Rumah Pewaris Rumah tradisional selanjutnya berasal dari provinsi Sulawesi Utara yang dinamakan dengan Rumah Pewaris. Rumah ini merupakan rumah yang dibangun oleh suku asli yang berdomisili di wilayah Sulawesi Utara , suku tersebut adalah suku Minahasa. Rumah adat ini mempunyai ciri khas pada bentuknya. Dimana bentuk yang dibuat yakni dengan gaya panggung dengan dua tangga yang ada pada bagian depan rumah. Material yang digunakan untuk membuat rumah tradisional ini adalah kayu. Dimana kayu yang digunakan merupakan lagu yang mempunyai kualitas bagus dan juga tahan lama, sedangkan pada sisi atapnya berbentuk limas yang menjulang ke atas dan pada bagian atas depan tersebut mempunyai ukiran yang sangat unik. Rumah Adat Sulawesi Barat Boyang Gambar Rumah Boyang Rumah tradisional selanjutnya yakni berasal dari provinsi Sulawesi Barat dengan nama rumah Boyang. Rumah Boyang merupakan rumah yang terbilang cukup unik jika dilihat dari luar, sehingga beberapa orang juga menyebutnya dengan sebutan rumah Mandar. Kenapa disebut dengan rumah Mandar? Ternyata hal tersebut disebabkan karena penghuni asli dari rumah tersebut adalah suku Mandar yang disebut sebagai suku etnis asli dari Sulawesi Barat. Sisi depan dan juga sisi belakang rumah ini terdapat tangga yang mempunyai jumlah ganjil pada anak tangganya. Dinding yang terbuat dari papan dan dihiasi oleh ukiran-ukiran dengan motif sehingga menjadikan ciri khas dari suku Mandar. Sedangkan pada atap rumah tersebut terbuat dari daun Rumbia yang ditambahkan ornament tertentu dengan bentuk atap yang prima dan memanjang. Fungsi dari rumah ini adalah dijadikan sebagai tempat tinggal suku Mandar. Rumah ini mempunyai beberapa ruangan khusus diantaranya adalah Ruang Samboyang, Tangnga Boyang, Bu’i Boyang, Paceko, Tapang, Lego-lego, Naon Boyang dah masih banyak lainnya. Masing masing-masing dari ruangan tersebut tentunya mempunyai fungsi tersendiri misalnya ruang Semboyang yang digunakan untuk menerima tamu. Rumah Adat Sulawesi Tengah Tambi Gambar Rumah Tambi Rumah adat selanjutnya berasal dari Sulawesi Tengah yang dinamakan dengan Rumah Tambi. Rumah Rambu merupakan rumah yang khusus dihuni oleh suku Lore dan juga Suku Kali yang merupakan masyarakat mayoritas di wilayah sana. Rumah ini juga disebut sebagai rumah untuk kepala adat, tetapi penduduk biasanya juga akan tinggal di rumah ini. Perbedaan dari keduanya terletak dari anak tangganya. Dimana jika rumah khusus kepala adat akan mempunyai anak tangga yang ganjil, sedangkan untuk penduduk anak tangga akan berjumlah genap. Bentuk dari rumah ini adalah panggung dengan atap rumah yang digunakan sebagai atap sekaligus dinding. Pondasi rumah ini terbuat dari batu alam, sedangkan untuk tangganya terbuat dari bahan bambu dan juga daun rimba. Bentuk rumah ini sebenarnya mempunyai makna tersendiri. Bentuk segitiga merupakan simbol yang melambangkan dua relasi antara horizontal dan juga vertikal. Sedangkan untuk garis horizontal mempunyai makna relasi antar manusia dan vertikal akan bermakna hubungan antara manusia dan pencipta Rumah Adat Sulawesi Tenggara Buton Malige Gambar Rumah Buton Malige Rumah adat selanjutnya berasal dari Sulawesi Tenggara dengan nama Rumah Buton Malige. Rumah ini mempunyai bentuk yang unik. Dimana tangga yang ada pada rumah akan ditutup oleh atap. Ciri khas dari rumah ini terletak pada karakteristik arsitekturnya. Karena arsitektur yang dibuat dengan seunik mungkin agar mudah dikenal oleh masyarakat lainnya. Terdapat empat lantai yang ada pada rumah ini, dimana pada saat pembuatan terdapat beberapa kerumitan. Empat lantai tersebut dibuat dengan menggunakan teknik konstruksi kayu yang dikaitkan tanpa menggunakan pasak dan juga paku. Rumah Adat Sulawesi Selatan Tongkonan Gambar Rumah Tongkonan Rumah tradisional lainnya berasal dari provinsi Sulawesi Selatan yang disebut dengan Rumah Tongkonan. Rumah ini mempunyai desain dan juga arsitektur yang unik, dimana karakteristik dari rumah terdapat pada atapnya yang dibuat dengan berbeda dengan rumah tradisional lainnya. Bentuk atap yang ada pada rumah juga sangatlah unik, dimana atap rumah tersebut berbentuk seperti perahu. Sedangkan tentunya pada saat proses pembuatan dibutuhkan teknik khusus yang membutuhkan tingkat ketelitian tinggi. Rumah ini terbuat dari bahan material kayu dengan bagian depan rumah terdapat hiasan tanduk kerbau. Rumah Daerah Gorontalo Dulohupa Gambar Rumah Dulohupa Rumah Dulohupa merupakan rumah khas dari provinsi Gorontalo. Rumah ini jika dilihat secara sekilas seperti perpaduan dari gaya modern dan juga gaya klasik. Dimana gaya yang ada adalah adanya panggung dengan dua tangga pada sisi kanan dan juga sisi kiri bagian depan. Rumah ini juga terbuat dari kayu dengan kualitas yang tinggi dan tentunya tahan lama. Ciri khas yang ada pada rumah ini adalah pada atap yang mempunyai estetika tinggi dengan bentuk yang simple dan juga elegan. Rumah ini berdiri kokoh dengan adanya sokongan tiang-tiang yang ditata dengan rapi sehingga akan menimbulkan estetika khas. Rumah Khas Adat Maluku Baileo Gambar Rumah Baileo Rumah adat tradisional yang berasal dari provinsi Maluku adalah Rumah Baileo. Rumah tersebut merupakan rumah yang terdapat simbol tertentu. Simbol tersebut melambangkan sebuah kemajemukan agama yang ada pada daerah Maluku. Bentuk rumah juga terbilang unik dengan adanya panggung dan juga agak yang hampir memenuhi pada bagian bawahnya. Atap rumah terbuat dari daun rumbia dan juga bambu yang ditata dengan rapi. Rumah ini mempunyai ukuran yang cukup besar, hal tersebut dikarenakan fungsi dari rumah bukan hanya digunakan sebagai tempat tinggal, melainkan juga digunakan untuk musyawarah atau acara. Sehingga meskipun tempat tersebut untuk acara tertentu, tempat itu juga mempunyai ruangan khusus yang digunakan untuk menyimpan benda pusaka suci. Rumah Tradisional Papua Barat Mod Aki Aksa Gambar Rumah Mod Aki Aksa Rumah adat Papua Barat dinamakan dengan nama Rumah Mod Aki Aksa. Dimana suku yang tinggal di rumah tersebut adalah suku Arfak, dengan lokasi yang berada di daerah Manokwari. Keunikan dari rumah ini adalah mempunyai seribu penyangga dan berbentuk panggung. Sehingga banyak orang yang juga menyebutnya sebagai rumah kaki seribu. Bahan material yang digunakan pada rumah ini adalah pohon-pohon yang ada di alam sekitar, dengan desain yang cocok untuk lingkungan Papua dataran tinggi dan mempunyai temperatur yang rendah. Rumah Adat Papua Honai Gambar Rumah Honai Rumah honai merupakan rumah yang berasal dari provinsi Papua. Rumah ini disebut sebagai peninggalan dari nenek moyang yang sudah sangat langka. Tetapi memang pada kenyataannya rumah tersebut sudah tidak terawat lagi. Meskipun rumah tersebut simple tetapi rumah ini sangatlah unik. Hal tersebut dapat disaksikan dengan rumah yang hanya menggunakan daun rumbia dan kayu saja, sehingga akan menimbulkan estetika tersendiri. Rumah Adat Maluku Utara Sasadu Gambar Rumah Sasadu Rumah adat yang terakhir adalah Rumah Sasadu yang berasal dari provinsi Maluku Utara. Rumah ini mempunyai tipe seperti rumah panggung dengan keunikan pada jumlah pintu yakni sebanyak 6 buah dengan fungsi yang berbeda-beda. Dimana 2 pintu digunakan khusus untuk kaum laki-laki dan 2 pintu lainnya digunakan khusus untuk perempuan sedangkan 2 pintu sisanya dikhususkan untuk kedatangan para tamu. Rumah sasadu merupakan rumah adat Indonesia yang mempunyai jumlah pintu terbanyak daripada provinsi lainnya. Penutup Demikianlah pembahasan mengenai rumah-rumah adat di Indonesia 34 provinsi. Dimana pada masing-masing provinsi mempunyai rumah dengan bentuk serta ukuran dan juga makna yang berbeda. Semoga artikel ini dapat menambah wawasan bagi para pembaca dan juga dapat dipahami dengan baik! Rumah Adat Pengertian Rumah Adat Rumah adat adalah bangunan yang memiliki ciri khas khusus, digunakan untuk tempat hunia oleh suatu suku bangsa tertentu. Rumah adat juga salah satu representasi kebudayaan yang paling tinggi dalam sebuah komunitas suku/masyarakat. Keberadaan rumah adat di Indonesia sangat beragam dan mempunyai arti yang penting dalam perspektif sejarah, warisan dan kemajuan masyarakat dalam sebuah peradaban. Rumah-rumah adat di Indonesia mempunyai bentuk dan arsitektur masing-masing daerah sesuai dengan budaya adat lokal. Rumah adat pada umumnya dihiasai ukiran-ukiran indah, pada jaman dulu, rumah adat yang tampak paling indah biasa dimiliki para keluarga kerajaan atau ketua adat setempat menggunakan kayu-kayu pilihan dan pengerjaannya dilakukan secara tradisional melibatkan tenaga ahli dibidangnya, banyak rumah-rumah adat yang saat ini masih berdiri kokoh dan sengaja dipertahankan dan dilestarikan sebagai simbol budaya Indonesia. Fungsi Rumah Adat Rumah gadang berfungsi sebagai tempat tinggal dan tempat acara adat, ukuran ruang tergantung dari banyaknya penghuni di rumah itu. Namun jumlah ruangan biasanya ganjil, seperti lima ruang, tujuh, sembilan atau lebih. Sebagai tempat tinggal, rumah gadang mempunyai bilik-bilik dibagian belakang yang didiami oleh wanita yang sudah berkeluarga, ibu-ibu, nenek-nenek dan anak-anak. Fungsi rumah gadang yang juga penting ialah sebagai iringan adat, seperti menetapkan adat atau tempat melaksanakan acara seremonial adat seperti kematian, kelahiran, perkawinan, mengadakan acara kebesaran adat, tempat mufakat dan lain-lain. Perbandingan ruang tempat tidur dengan ruang umum ialah sepertiga untuk tempat tidur dan dua pertiga untuk kepentingan umum. Pemberian ini memberi makna bahwa kepentingan umum lebih diutamakan dari pada kepentingan pribadi. Rumah Adat Di Indonesia Berikut ini terdapat beberapa rumah adat di indonesia di 34 provinsi, terdiri atas 1. Rumah Gadang Sumatra Barat Rumah adat provinsi Sumatra Barat disebut Rumah Gadang. Rumah tersebut dapat dikenali dari tonjalan atapnya yang mencuat ke atas yang bermakna menjurus kepada Yang Maha Esa. Tonjolan itu di namakan gojong yang banyaknya 4-7 buah. Rumah ini memiliki keunikan bentuk arsitektur yaitu dengan atap yang menyerupai tanduk kerbau dibuat dari bahan ijuk. Dihalaman depan Rumah Gadang biasanya selalu terdapat dua buah bangunan Rangkiang digunakan untuk menyimpan padi. Rumah Gadang pada sayap bangunan sebelah kanan dan kirinya terdapat ruang anjuang anjung sebagai tempat pengantin bersanding atau tempat penobatan kepala adat, karena itu rumah Gadang dinamakan pula sebagai rumah Baanjuang. Anjuang pada keselarasan Bodi-Chaniago tidak memakai tongkat penyangga di bawahnya, sedangkan untuk golongan kesalarasan Koto-Piliang memakai tongkat penyangga. Hal ini sesuai filosofi yang dianut kedua golongan ini yang berbeda, salah satu golongan menganut prinsip pemerintahan yang hirarkies menggunakan anjuang yang memakai tongkat penyangga, pada golongan lainnya anjuang seolah-olah mengapung di udara. Rumah Gadang adalah nama untuk rumah adat Minangkabau, provinsi Sumatra Barat. Rumah ini memiliki keunikan bentuk arsitektur yaitu dengan atap yang menyerupai tanduk kerbau dibuat dari bahan ijuk. Dihalaman depan Rumah Gadang biasanya selalu terdapat dua buah bangunan Rangkiang, digunakan untuk menyimpan padi. Rumah Gadang pada sayap bangunan sebelah kanan dan kirinya terdapat ruang anjuang anjung sebagai tempat pengantin bersanding atau tempat penobatan kepala adat, karena itu rumah Gadang dinamakan pula sebagai rumah Baanjuang. Anjuang pada keselarasan Bodi-Chaniago tidak memakai tongkat penyangga di bawahnya, sedangkan untuk golongan kesalarasan Koto-Piliang memakai tongkat penyangga. Hal ini sesuai filosofi yang dianut kedua golongan ini yang berbeda, salah satu golongan menganut prinsip pemerintahan yang hirarkies menggunakan anjuang yang memakai tongkat penyangga, pada golongan lainnya anjuang seolah-olah mengapung di udara. 2. Rumoh Aceh Nanggroe Aceh Darussalam Setiap suku bangsa yang mendiami kepulauan Indonesia memiliki rumah adat masing-masing. Aceh juga memiliki rumah adat yang dinamakan Rumoh Aceh rumoh = rumah Aceh. Walaupun masing-masing etnis di Aceh memiliki rumah adat tersendiri, namun Rumoh Aceh disepakati sebagai bangunan rumah adat untuk mewakili masyarakat Aceh. Sebagian masyarakat Indonesia sudah pernah melihat prototip Rumoh Aceh. Namun masih sedikit orang memahami teknologi bangunannya. Artinya, bagaimana konstruksi Rumoh Aceh yang sebenarnya. Rumoh Aceh terdiri atas tiang utama bisa lebih, yang terbuat dari kayu pilihan berbentuk bulat lurus. Dahulu, cara pengamabilan tiang rumah Tameh Rumoh, mempunyai syarat tertentu. Pohon harus cukup umur, sebelum ditebang, seseorang yang ditu adatkan mengitari pohon itu beberapa kali disertai dialog dengan bahasa isyarat. Ini wujud penghargaan kepada sesama makhluk, dan prinsip dasar pelestarian lingkungan. Setiap tiang dipahat tiga lubang tembus. Satu lubang untuk memasukkan lagor toi serambi, satu untuk lagor utama rumoh, dan satu lubang lagi lebih kecil untuk lagor kecil rok penyeimbang paralel sisi memanjang. Bagian bawah dipotong rata, dan bagian atas dibuat putting berbentuk balok, tiang didirikan dengan menggunakan tapakyang terbuat dari coran semen atau batu. Putting atas sebagai tempat memasukkan kerangka atas yang terdiri atas empat bara papan 25 x 5 cm untuk menyeimbangi bagian atas dan tempat kerangka atap diletakkan. Kerangka atap terdiri atas kayu bulat seukurab bambu yang disebut gaseue. Semuanya disusun dengan jarak sekitar satu meter, dan ditengahnya diselipi belubah, yaitu tempat atap rumbiah dirajut. Gasue, beulubah, dan atap hanya diletakkan diatas bara. Penahan semua ini adalah tali ijuk yang dibuat mirip ramset nok yang jumlahnya sama dengan jumlah tiang sisi serambi. Jika tali ini dipotong, atap bersama gaseue dan beulubah akan meluncur ke bawah. Dinding umumnya dari papan, dan dihiasi ornamen berupa ukiran. Semua sisi ditutupi dengan kayu berukir peulangan. Dulu peulangan ini selain ukiran motif Aceh, juga dilukis gambar bunga atau binatang. Pada bagian rabung yang menghadap keluar para, Rumoh Aceh dilengkapi dengan tulak angen yang lubangnya diukir. Untuk menguatkan hubungan toi dengan tameh , dan sambungan menggunakan pasak. Tidak ada paku yang digunakan pada bangunan Rumoh Aceh. Dengan demikian, jika dibutuhkan Rumoh Aceh dapat di bongkar dari kemudian didirikan di tempat lain. 3. Rumah Bolon Sumatra Utara Penduduk Sumatera Utara yang terdiri dari banyak suku mempunyai beragam budaya salah satunya adalah budaya rumah adat. Suku Batak Toba yang merupakan salah satu suku di Sumatera Utara juga mempunyai rumah adat. Rumah adat Batak Toba disebut dengan Rumah Bolon’. Dihuni oleh beberapa keluarga yang menempati ruang dalam secara terbuka bersama. Posisinya terkelompok berdasarkan aturan adat dari yang paling penting sampai keluarga lainnya dalam masing-masing fungsi. Sudut kanan belakang dari rumah dianggap sebagai lokasi keramat yang hanya boleh ditempati oleh pemimpin rumah. Di bagian belakang rumah ada bangunan tambahan yang berfungsi sebagai dapur, di mana Setiap keluarga bisa memiliki dapur sendiri. Lumbung padi terletak pada bangunan tersendiri yang disebut dengan ’sopo’. Untuk memasuki rumah Batak Toba dibuat tangga dengan posisi pada lubang yang ada di bawah lantai panggung. Secara adat telah ditentukan bahwa tangga ini selayaknya berjumlah ganjil. Tangga yang cepat aus merupakan kebanggaan bagi pemillik rumah bahwa banyak orang dan tamu yang telah memasuki rumahnya. Tangga ini diberi nama ’tangga rege-rege’. Ornamentasi dan dekorasi dari rumah adat Batak Toba mengandung nilai filosofi bagi keselamatan penghuni. Lokasi elemen rumah yang dihias berada pada gevel, pintu masuk, sudut-sudut rumah, bahkan ada yang sampai berada di keseluruhan dinding. Hiasan ini dapat berupa ukiran, dapat diberi warna, atau hanya berupa gambar saja. Tiga elemen warna yang penting adalah merah, putih dan hitam. Merah melambangkan pengetahuan/kecerdasan, putih melambangkan kejujuran/kesucian dan hitam melambangkan kewibawaan/kepemimpinan. 4. Rumah Melayu Selaso Jatuh Kembar Riau Rumah adat di provinsi Riau bernama Rumah Melayu Selaso Jatuh Kembar. Ruangan rumah ini terdiri dari ruangan besar untuk tempat tidur. ruangan bersila, anjungan dan dapur. Rumah adat ini dilengkapi pula dengan Balai Adat yang dipergunakan untuk pertemuan dan musyawarah adat. Bentuk rumah tradisional daerah Riau pada umumnya adalah rumah panggung yang berdiri di atas tiang dengan bangunan persegi panjang. Draf beberapa bentuk rumah ini hampir serupa, baik tangga, pintu, dinding, susunan ruangannya sama saja, kecuali rumah lontik. Rumah lontik yang dapat juga disebut Rumah Lancang karena rumah ini bentuk atapnya melengkung ke atas dan agak runcing sedangkan dindingnya miring keluar dengan miring keluar dengan hiasan kaki dinding mirip perahu atau lancang. Hal ini melambangkan penghormatan kepada Tuhan dan terhadap sesama. Rumah Lontik diperkirakan dapat pengaruh dari kebudayaan Minangkabau karena kabanyakan terdapat di daerah yang berbatasan dengan Sumatera Barat. Tangga rumah biasanya ganjil, bahkan Rumah Lontik beranak tangga lima, Hal ini ada kaitannya dengan ajaran Islam yakni rukun islam yang lima. Tiang bentuknya bermacam-macam, ada yang persegi empat, segi enam, segi tujuh, segi delapan, dan segi sembilan. Segi empat melambangkan empat penjuru mata angin, sama dengan segi delapan. Maksudnya rumah itu akan mendatangkan rezeki dari segala penjuru. Tiang segi enam melambangkan Rukun Iman dalam ajaran Islam, maksudnya diharapkan pemilik rumah tetap taat dan beriman kepada Tuhannya. Tiang segi tujuh melambangkan tujuh tingkatan surga dan neraka. Kalau pemilik rumah baik dan soleh akan masuk ke salah satu tujuh tingkat surga, sebaliknya kalau jahat akan masuk salah satu tujuh tingkat neraka. Tiang persegi sembilan melambngkan bahwa pemilik rumah adalah orang mampu. Tiang utama adalah tiang tuo, yang terletak pada pintu masuk sebelah kiri dan kanan, dan tiang ini tidak boleh disambung karena sebagai lambang rasa hormat kepada orang tua. Di daerah lain yakni pada suku Melayu di kepulauan, tiang yang dianggap penting adalah Tiang Seri yang terdapat di keempat sudut rumah. Baik Tiang Tuo maupun Tiang Seri tak boleh bersambung dan terbuat dari kayu yang besar. 5. Rumah Kejang Lako Jambi Rumah Kejang Lako oleh masyarakat Marga Bathin dibangun dengan tipologi bangunan rumah panggung yang berbentuk empat persegi panjang. Rata-rata bangunan dibuat dalam ukuran 9 m x 12 m dengan menggunakan kayu ulim yang banyak tumbuh di daerah Jambi. Untuk merangkai kayu-kayu pada bagian rumah, masyarakat Marga Bathin mengandalkan teknik tradisional, seperti teknik tumpuan, sambung kait, dan pengait menggunakan pasak. Keunikan bangunan rumah panggung Kejang Lako terletak pada struktur konstruksi dan ukiran yang menghiasi bangunan. Konstruksi bangunan terdiri dari beberapa bagian, seperti Bubungan/atap dibuat seperti perahu dengan ujung bubungan bagian atas melengkung ke atas yang sering disebut lipat kejang, atau potong jerambah. Kasau Bentuk adalah atap bagian atas yang berfungsi untuk mencegah air hujan tidak masuk ke dalam rumah. Penteh, bagian ini berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda yang jarang dipergunakan. Tebar layar, bagian ini berfungsi sebagai dinding penutup ruang atas yang menahan rembesan/tempias air hujan. Pelamban merupakan bangunan tambahan yang dipergunakan untuk ruang tunggu bagi tamu yang baru datang sebelum diizinkan masuk oleh tuan rumah. Masinding/dinding, terbuat dari papan yang diukir. Pintu pada rumah panggung Kejang Lako terdiri dari 3 pintu, yaitu pintu tegak, pintu masinding, pintu balik melintang. Rumah ini juga memiliki dua tangga, yaitu tangga utama yang terdapat di sebelah kanan pelamban dan tangga penteh yang dipakai untuk naik ke penteh. Tiang rumah panggung Kejang Lako berjumlah 30 yang terdiri dari 24 tiang utama dan 6 tiang pelamban. Tiang utama panjangnya 4,25 m yang berfungsi sebagai tonggak untuk menopang kerangka bangunan. Di samping sebagai penopang, tiang tersebut juga berfungsi sebagai pemisah antara satu ruang dengan ruangan yang lain menjadi 8 bagian. Adapun nama-nama ruang tersebut adalah pelamban, ruang gaho, ruang masinding, ruang tengah, ruang balik melintang, ruang balik menalam, ruang atas/penteh, dan ruang bawah/bauman. Bangunan rumah panggung Kejang Lako menjadi lebih indah dengan hiasan beraneka ragam motif ukiran khas masyarakat Jambi. 6. Rumah Limas Sumatra Selatan Rumah Bari Palembang Rumah Adat Limas merupakan Rumah panggung kayu. Bari dalam bahasa Palembang berarti lama atau kuno. Dari segi arsitektur, rumah-rumah kayu itu disebut rumah limas karena bentuk atapnya yang berupa limasan. Sumatera Selatan adalah salah satu daerah yang memiliki ciri khas rumah limas sebagai rumah tinggal. Alam Sumatera Selatan yang lekat dengan perairan tawar, baik itu rawa maupun sungai, membuat masyarakatnya membangun rumah panggung. Di tepian Sungai Musi masih ada rumah limas yang pintu masuknya menghadap ke sungai. Bangunan rumah limas biasanya memanjang ke belakang. Ada bangunan yang ukuran lebarnya 20 meter dengan panjang mencapai 100 meter. Rumah limas yang besar melambangkan status sosial pemilik rumah. Biasanya pemiliknya adalah keturunan keluarga Kesultanan Palembang, pejabat pemerintahan Hindia Belanda, atau saudagar kaya. Bangunan rumah limas memakai bahan kayu unglen atau merbau yang tahan air. Dindingnya terbuat dari papan-papan kayu yang disusun tegak. Untuk naik ke rumah limas dibuatlah dua undak-undakan kayu dari sebelah kiri dan kanan. Bagian teras rumah biasanya dikelilingi pagar kayu berjeruji yang disebut tenggalung. Makna filosofis di balik pagar kayu itu adalah untuk menahan supaya anak perempuan tidak keluar dari rumah. Memasuki bagian dalam rumah, pintu masuk ke rumah limas adalah bagian yang unik. Pintu kayu tersebut jika dibuka lebar akan menempel ke langit- langit teras. Untuk menopangnya, digunakan kunci dan pegas. Bagian dalam ruangan tamu, yang disebut kekijing, berupa pelataran yang luas. Ruangan ini menjadi pusat kegiatan berkumpul jika ada perhelatan. Ruang tamu sekaligus menjadi “ruang pamer” untuk menunjukkan kemakmuran pemilik rumah. Bagian dinding ruangan dihiasi dengan ukiran bermotif flora yang dicat dengan warna keemasan. Tak jarang, pemilik menggunakan timah dan emas di bagian ukiran dan lampu- lampu gantung antik sebagai aksesori. 7. Nuwou Sesat Lampung Rumah adat di Lampung ialah Rumah Sesat Nuwou Sesat, yang digunakan untuk musyawarah tertinggi antara marga-marga. Jambal Agung atau Lorong Agung adalah nama tangga menuju Rumah Sesat. Arsitektur tradisional Lampung umumnya terdiri dari bangunan tempat tinggal disebut Lamban, Lambahana atau Nuwou, bangunan ibadah yang disebut Mesjid, Mesigit, Surau, Rang Ngaji, atau Pok Ngajei, bangunan musyawarah yang disebut sesat atau bantaian, dan bangunan penyimpanan bahan makanan dan benda pusaka yang disebut Lamban Pamanohan. Rumah orang Lampung biasanya didirikan dekat sungai dan berjajar sepanjang jalan utama yang membelah kampung, yang disebut tiyuh. Setiap tiyuh terbagi lagi ke dalam beberapa bagian yang disebut bilik, yaitu tempat berdiam buway . Bangunan beberapa buway membentuk kesatuan teritorial-genealogis yang disebut marga. Dalam setiap bilik terdapat sebuah rumah klen yang besar disebut nuwou menyanak. Rumah ini selalu dihuni oleh kerabat tertua yang mewarisi kekuasaan memimpin keluarga. Nuwou Sesat, bangunan ini aslinya adalah balai pertemuan adat tempat para purwatin penyimbang pada saat mengadakan pepung adat musyawarah. Karena itu balai ini juga disebut Sesat Balai Agung. Bagian bagian dari bangunan ini adalah ijan geladak tangga masuk yang dilengkapi dengan atap. Atap itu disebut Rurung Agung. Kemudian anjungan serambi yang digunakan untuk pertemuan kecil, pusiban ruang dalam tempat musyawarah resmi, ruang tetabuhan tempat menyimpan alat musik tradisional, dan ruang Gajah Merem tempat istirahat bagi para penyimbang. Hal lain yang khas di rumah sesat ini adalah hiasan payung-payung besar di atapnya rurung agung, yang berwarna putih, kuning, dan merah, yang melambangkan tingkat kepenyimbangan bagi masyarakat tradisional Lampung Pepadun. 8. Bubungan Lima Bengkulu Rumah Adat Bubungan Lima ialah rumah watak Panggung Tradisional dari Provinsi Bengkulu. Rumah . Rumah Adat Bubungan Lima sejatinya merujuk pada atap dari rumah panggung tersebut. Selain “bubungan lima”, rumah panggung khas Bengkulu ini mempunyai bentuk atap lainnya, menyerupai “bubungan limas”, “bubungan haji”, dan “bubungan jembatan”. Rumah Adat Bubungan Lima mempunyai model menyerupai rumah panggung yang ditopang oleh beberapa tiang penopang. Rumah Adat Bubungan Lima biasanya digunakan untuk program watak masyarakat Bengkulu Rumah Bubungan Lima, ialah salah satu prototipe hunian tahan banjir, yang merepresentasikan nilai-nilai kearifan lokal pada masyarakat Bengkulu. Rumah Bubungan Lima dibangun tinggi supaya menghindari pemilik rumah beserta keluarga dari serangan hewan liar dan juga dari musibah menyerupai banjir. Karena tinggi Rumah Bubungan Lima ini, maka orang-orang yang hendak masuk ke dalam rumah pun harus memakai yang digunakan untuk masuk ke dalam rumah umumnya mempunyai jumlah anak tangga yang ganjil sesuai dengan kepercaaan masyarakat Bengkulu. Rumah Bubungan Lima dibangun tinggi supaya menghindari pemilik rumah beserta keluarga dari serangan hewan liar dan juga dari musibah menyerupai banjir. Karena tinggi Rumah Bubungan Lima ini, maka orang-orang yang hendak masuk ke dalam rumah pun harus memakai yang digunakan untuk masuk ke dalam rumah umumnya mempunyai jumlah anak tangga yang ganjil sesuai dengan kepercaaan masyarakat Bengkulu. Pada umumnya rumah watak tersebut mempunyai 15 tiang yang tinggginya mencapai 1,8 meter dan beralas batu. Memiliki atap dari ijuk yang berbentuk limas dengan tinggi 3,5 meter. Memiliki lantai kayu dan tangga, anak tangga berjumlah ganjil alasannya ialah sesuai dengan watak yang ada di Bengkulu. Rumah terdiri dari beberapa bab yaitu barendo sebagai daerah untuk mendapatkan tamu yang sedang memberikan pesan, hall untuk mendapatkan tamu dari kerabat dekat. Material utama yang digunakan ialah kayu medang kemuning atau surian balam, yang berkarakter lembut namun tahan lama. Lantainya terbuat dari papan, sementara atapnya terbuat dari ijuk enau atau sirap. Sementara di bab depan, terdapat tangga untuk naik-turun rumah, yang jumlahnya biasanya ganjil berkaitan dengan nilai adat. Menilik sejumlah literatur yang membuktikan ihwal rumah watak ini, kesimpulan sementara yang sanggup diambil adalah, rumah ini bukanlah jenis daerah tinggal yang umum ditempati masyarakat. Rumah Bubungan Lima juga jenis rumah watak lainnya di Bengkulu ialah rumah dengan fungsi khusus yang digunakan untuk ritus-ritus watak atau program khusus, menyerupai penyambutan tamu, kelahiran, perkawinan, atau kematian. 9. Rumah Kebaya Jakarta Rumah Kebaya mempunyai beberapa pasang atap, yang apabila dilihat dari samping berlipat-lipat seperti lipatan kebaya. Arsitekturnya seperti monas yang terpotong bagian tugunya. Rumah ini melambangkan penduduk Jakarta yang terdiri dari berbagai suku bangsa. Pembagian ruangannya, serambi depan disebut Paseban. Dindingnya terbuat dari panel-panel yang dapat dibuka-buka dan digeser-geser ke tepinya. Hal ini dimaksudkan agar ruangan terasa lebih luas. Pada saat-saat tertentu, Rumah Kebaya sering digunakan untuk mengadakan acara selamatan atau hajatan khas Betawi. Struktur Bangunan Betawi Konstruksi rumah betawi diawali dengan Umpak, yaitu batu yang menahan beratnya Dinding Pada bagian tengah kekuatan bertumpu pada Penglari dan pada bagian atas, aksentuasi konstruksi pada kuda-kuda Secara garis besar sistem struktur banguan yang secara keseluruhan berbeda, unsur-unsur struktur maupun lihat dari tata letak fungsi-fungsi atau ruang-ruangnya, pola yang dimiliki oleh rumah tradisional betawi cenderung bersifat simetris walaupun bukan hal yang mutlak Secara umum, tradisional betawi mempunyai tata ruang yang sederhana dan terdiri dari 3 kelompok yaitu ruang depan, tengah dan belakang. 10. Rumah Melayu Bubung Panjang Bangka Belitung Secara umum arsitektur di Kepulauan Bangka Belitung berciri Arsitektur Melayu seperti yang ditemukan di daerah-daerah sepanjang pesisir Sumatera dan Malaka. Di daerah ini dikenal ada tiga tipe yaitu Arsitektur Melayu Awal, Melayu Bubung Panjang dan Melayu Bubung Limas. Rumah Melayu Awal berupa rumah panggung kayu dengan material seperti kayu, bambu, rotan, akar pohon, daun-daun atau alang-alang yang tumbuh dan mudah diperoleh di sekitar pemukiman. Bangunan Melayu Awal ini beratap tinggi di mana sebagian atapnya miring, memiliki beranda di muka, serta bukaan banyak yang berfungsi sebagai fentilasi. Rumah Melayu awal terdiri atas rumah ibu dan rumah dapur, yang berdiri di atas tiang rumah yang ditanam dalam tanah. Berkaitan dengan tiang, masyarakat Kepulauan Bangka Belitung mengenal falsafah 9 tiang. Bangunan didirikan di atas 9 buah tiang, dengan tiang utama berada di tengah dan didirikan pertama kali. Atap ditutup dengan daun rumbia. Dindingnya biasanya dibuat dari pelepah/kulit kayu atau buluh bambu. Rumah Melayu Bubung Panjang biasanya karena ada penambahan bangunan di sisi bangunan yang ada sebelumnya, sedangkan Bubung Limas karena pengaruh dari Palembang. Sebagian dari atap sisi bangunan dengan arsitektur ini terpancung. Selain pengaruh arsitektur Melayu ditemukan pula pengaruh arsitektur non-Melayu seperti terlihat dari bentuk Rumah Panjang yang pada umumnya didiami oleh warga keturunan Tionghoa. Pengaruh non-Melayu lain datang dari arsitektur kolonial, terutama tampak pada tangga batu dengan bentuk lengkung. 11. Rumah Rakit Bangka Belitung Rumah Rakit sesuai dengan namanya yaitu rumah yang berada di atas perairan dengan bentuk seperti rakit. Mengingat Bangka Belitung terbatasi oleh perairan baik sungai maupun lautan maka banyak masyarakat Bangka yang membuat rumah diatas air sebagai tempat tinggal dan tempat bisnis ekonomi. Seperti halnya rakit, rumah ini berbahan utama bambu khususnya bambu manyan dan bambu ini digunakan untuk pelampung rumah rakit agar tidak tenggelam ketika digunakan oleh pemiliknya. Kelebihan dari rumah ini adalah dapat bertahan lama untuk ukuran tempat tinggal, meskipun terkena hujan dan panas diatas perairan serta memiliki bentuk yang besar dan cocok untuk tinggal banyak orang, namun sulitnya rumah ini berada di atas perairan dan tentu tidak stabil. 12. Rumah Panggung Bangka Belitung Di Sumatera memang di dominansi oleh rumah Panggung yang menjadi rumah utama, begitupun dengan rumah panggung Bangka Belitung. Dengan mewarisi gaya seperti Melayu Awal, Melayu Bubungan Limas dan juga rumah Melayu Bubung Panjang. Rumah ini banyak digunakan oleh masyarakat Bangka dengan bentuk atau bahan seperti kayu, rotan, bambu dan dedaunan. Serta akar pohon dan alang yang kuat dan juga tahan lama. Ciri khas lainnya dari Rumah Panggung yaitu bentuk atap yang tinggi dan sedikit miring. Rumah ini juga memiliki jendela yang banyak. Bagian di dalam rumah terdiri dari rumah induk atau ibu dan juga rumah dapur tempat para wanita dan anak gadisnya memasak dan belajar mengurus rumah. Rumah ini juga anti menggunakan cat sehingga warna alamilah yang digunakan. 13. Rumah Adat Melayu Atap Lontik Bangka Belitung Rumah adat Provinsi Riau ini juga disebut dengan rumah lancang atau pancalang. Mengapa disebut demikian? Hal tersebut dikarenakan rumah ini mempunyai hiasan di dinding depan rumah dengan bentuk perahu. Selain itu ternyata ada sebutan lain untuk rumah tradisional ini, yakni lontik. Disebut begitu karena rumah ini memiliki parabung atap yang meletik ke atas. Rumah adat Riau ini dipengaruhi oleh kebudayaan Minangkabau. Hal ini karena sebagian besar rumah terletak di daerah perbatasan dengan Sumatera Barat. Keunikan rumah Melayu Atap Lontik adalah adanya anak tangga dengan jumlah lima atau ganjil. Alasannya adalah adanya keyakinan tentang lima rukun Islam, yakni syahadat, sholat, zakat, puasa, dan haji. Selanjutnya bentuk tiang yang ada juga mempunyai variasi, mulai dari segi empat, segi enam, segi tujuh, segi delapan, hingga segi sembilan. 14. Rumah Rumah Lancang atau Pencalang Kepulauan Riau Kepulauan Riau merupakan salah satu satu provinsi di Indonesia. Daerah ini merupakan gugusan pulau yang tersebar di perairan selat Malaka dan laut Cina selatan. Keadaan pulau-pulau itu berbukit dengan pantai landai dan terjal. Mayoritas penduduknya berprofesi sebagai nelayan dan petani. Sedangkan agama yang dianut oleh sebagian besar dari mereka adalah Islam. Rumah Lancang atau Pencalang merupakan nama salah satu Rumah tradisional masyarakat Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, Indonesia. Selain nama Rumah Lancang atau Pencalang, Rumah ini juga dikenal dengan sebutan Rumah Lontik. Disebut Lancang atau Pencalang karena bentuk hiasan kaki dinding depannya mirip perahu, bentuk dinding Rumah yang miring keluar seperti miringnya dinding perahu layar mereka, dan jika dilihat dari jauh bentuk Rumah tersebut seperti Rumah-Rumah perahu magon yang biasa dibuat penduduk. Sedangkan nama Lontik dipakai karena bentuk perabung bubungan atapnya melentik ke atas. 15. Rumah Adat Suku Baduy Banten Di Provinsi Banten terdapat Suku Baduy. Suku Baduy Dalam merupakan suku asli Sunda Banten yang masih menjaga tradisi anti modernisasi, baik cara berpakaian maupun pola hidup lainnya. Suku Baduy-Rawayan tinggal di kawasan Cagar Budaya Pegunungan Kendeng seluas hektare di daerah Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Perkampungan masyarakat Baduy umumnya terletak di daerah aliran Sungai Ciujung di Pegunungan Kendeng. Daerah ini dikenal sebagai wilayah tanah titipan dari nenek moyang, yang harus dipelihara dan dijaga baik-baik, tidak boleh dirusak. Rumah adatnya adalah rumah panggung yang beratapkan daun atap dan lantainya dibuat dari pelupuh yaitu bambu yang dibelah-belah. Sedangkan dindingnya terbuat dari bilik gedek. Untuk penyangga rumah panggung adalah batu yang sudah dibuat sedemikian rupa berbentuk balok yang ujungnya makin mengecil seperti batu yang digunakan untuk alas menumbuk beras. Rumah adat ini masih banyak ditemukan di daerah yang dihuni oleh orang Kanekes atau disebut juga orang Baduy. 16. Rumah Adat Parahu Kumureb Jawa Barat Imah Parahu Kumureb Dan yang terakhir adalah desain rumah Parahu Kumureb atau kalau dalam bahasa indonesia perahu tengkurap. Desain atap rumah adat Jawa Barat ini memiliki 4 bagian utama. Dua bagian pada bagian di depan dan belakang berbentuk trapesium, dan dua bagian lagi di sisi kanan kiri berbentuk segitiga sama sisi. Untuk di Palembang, desain atap Parahu Kumureb juga biasa disebut desain atap Limasan. Sesuai dengan namanya, atap rumah adat Sunda yang satu ini memang tampak terlihat seperti sebuah perahu yang terbalik atau tengkurap. DI Karenakan memiliki terlalu banyak sambungan, desain atap seperti ini sering kali mudah bocor sehingga jarang yang menggunakannya. Kendati demikian, masyarakat Kampung Kuta di Kabupaten Ciamis ternyata masih ada yang menggunakannya. 17. Rumah Adat Jolopong Jawa Barat Rumah adat jolopong di antara desain rumah adat Jawa Barat yang lainnya, Jolopong menjadi paling familiar karena yang paling sering banyak digunakan. Jolopong banyak dipilih karena bangunannya lebih mudah dibuat juga lebih hemat pada bahan material. Sesuai dengan namanya yang berarti “terkulai”, rumah Jolopong ini memang memiliki atap yang tampak tergolek lurus. Ada 2 bagian atapnya yang saling bersatu sama panjang. dan jika ditarik garis imajiner, antara ujung atap satu dengan ujung atap lainnya akan menghasilkan bentuk sebuah segitiga sama kaki. Desain rumah yang juga kerap disebut dengan Suhunan Panjang ini sampai kini masih digunakan sebagian masyarakat Kampung Dukuh di Garut. 18. Rumah Adat Julang Ngapak Jawa Barat Julang Ngapak kalau dalam bahasa Indonesia yang berarti seekor burung mengepakkan sayapnya. Nama rumah tersebut memang di lihat dari desain atapnya tampak melebar pada bagian sisi-sisinya, dan bila dilihat dari depan, bentuk atapnya memang terlihat seperti seekor burung yang sedang mengepakkan sayapnya. Rumah dengan memiliki desain atap Julang Ngapak pada umumnya akan dilengkapi dengan capit hurang atau cagak gunting di bagian bubungannya. Pada keduanya sama-sama memiliki fungsi untuk mencegah rembesnya pertemuan air di bagian atap yang terletak di ujung atas rumah. Atapnya tersebut dapat dibuat dari bahan rumbia, ijuk, atau alang-alang yang diikat pada kerangka atap dari bambu. Desain rumah Julang Ngapak yang hingga kini masih dapat kita dijumpai di Kuningan; Kampung Dukuh, Kampung Naga, Tasikmalaya; dan beberapa daerah lainnya yang ada di Jawa Barat. Bahkan selain itu, pada gedung Institut Teknologi Bandung beberapa di antaranya menggunakan desain atap rumah adat Jawa Barat yang satu ini. 19. Rumah Adat Kudus Jawa Tengah Rumah Adat Kudus merupakan salah satu rumah tradisional yang mencerminkan akulturasi kebudayaan masyarakat Kudus. Rumah Adat Kudus memiliki atap berbentuk joglo pencu, dengan bangunan yang didominasi seni ukir empat dimensi khas Kota Kudus yang merupakan perpaduan gaya seni ukir dari budaya Hindu, Persia Islam, Cina, dan Eropa. Rumah ini diperkirakan mulai dibangun pada tahun 1500-an M dengan bahan baku utama 95% dari kayu jati tectona grandis berkualitas tinggi dengan sistem pemasangan knock-down bongkar pasang tanpa paku. Dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya, Rumah Adat Kudus banyak berdiri di wilayah Kudus Kulon Alun-alun ke barat yang komposisi penduduknya mayoritas adalah pengusaha dan pedagang yang secara ekonomi lebih maju dibandingkan dengan penduduk di wilayah Kudus Wetan Alun-alun ke timur. Pada awalnya, Rumah Adat Kudus hanya dimiliki oleh para pedagang Cina Islam, tetapi kemudian banyak pedagang pribumi yang ikut mendirikan rumah adat tersebut setelah usaha mereka berkembang. Rumah Adat Kudus sebagian besar dibangun sebelum tahun 1810 M dan pernah menjadi simbol kemewahan bagi pemiliknya pada waktu itu. Keunikan dan keistimewaan Rumah Adat Kudus tidak hanya terletak pada keindahan arsitekturnya yang didominasi dengan seni ukir kualitas tinggi, tetapi juga pada kelengkapan komponen-komponen pembentuknya yang memiliki makna filosofis berbeda-beda. 20. Rumah Joglo Jawa Tengah Bangunan ini termasuk pada banguna tahan rumah adat ini terdiri atas stuktur beton dan pondasi yang kuat sehingga dapat menahan tiga alasan mengapa rumah Joglo lebih tahan terhadap gempa. Pertama, rangka utama core frame yang terdiri umpak, sokoguru, dan tumpang sari, dapat menahan beban lateral yang bergerak horizontal ketika terjadi gempa. Inilah kunci utama mengapa rumah Joglo masih dapat berdiri ketika gempa Yogyakarta pada Mei 2006, di saat rumah atau gedung lain mengalami keruntuhan. Alasan kedua, adalah bahwa struktur rumah Joglo yang berbahan kayu menghasilkan kemampuan meredam getaran/guncangan yang efektif, lebih fleksibel, dan juga stabil. Struktur dari kayu inilah yang berfungsi meredam efek getaran/guncangan dari gempa. Ketiga, kolom rumah yang memiliki tumpuan sendi dan rol, sambungan kayu yang memakai sistem sambungan lidah alur, dan konfigurasi kolom anak soko-soko emper terhadap kolom-kolom induk soko-soko guru merupakan earthquake responsive building dari rumah Joglo. Oleh karenanya, dengan sistem ini, rumah Joglo lebih stabil pada frekuensi gempa tinggi dengan akselerasi rendah-tinggi. Sedangkan pada frekuensi gempa rendah, rumah Joglo lebih fleksibel. Hanya saja, Prihatmaji mengungkapkan rumah Joglo hanya tahan pada daerah gempa III. Lebih dari itu, rumah jenis ini memerlukan beberapa modifikasi. 21. Rumah Adat Tajug Jawa Tengah Setiap rumah tradisional di Jawa Tengah memiliki filosofi tersendiri. Kita bahkan dapat mengatakan jika masing-masing memiliki fungsi yang hampir selalu berbeda. Seperti rumah tradisional Tajug yang satu ini. Rumah Tajug tradisional adalah rumah tradisional yang biasa digunakan untuk bangunan suci seperti masjid dan bangunan lainnya. Jika penggunaannya untuk keperluan perumahan tentu tidak diotorisasi. Memang, rumah Tajug tradisional dianggap sebagai jenis rumah yang dimurnikan. Jadi, tidak sembarang bangunan bisa menggunakan rumah adat jenis ini. Hanya bangunan tertentu yang dianggap sesuai dengan filosofi. Biasanya rumah tradisional ini memiliki atap runcing. Kita dapat mengatakan bahwa bentuknya terlihat seperti kotak. Untuk jenisnya sendiri, tidak hanya ada satu jenis rumah Tajug tradisional. Di sisi lain, jumlah total tipe rumah tradisional mencapai hingga 13 jenis. 22. Rumah Adat Panggang Pe Jawa Tengah Ternyata rumah tradisional Jawa yang populer bukan hanya rumah tradisional Joglo. Namun, Anda dapat menemukan di sini rumah tradisional lain, rumah tradisional Panggang Pe. Rumah ini cukup terkenal di Jawa Tengah. Untuk model rumah tradisional sendiri adalah rumah yang memiliki empat hingga enam tiang. Di pos depan biasanya sengaja disingkat dari pos belakang. Jadi Anda bisa menyebutnya jika rumah tradisional cukup unik. Umumnya rumah tradisional ini digunakan untuk memasang kios dan warung. Saat ini, ada aliran yang berbeda dari rumah tradisional Panggang Pe. Tetapi ada sekolah yang memiliki kesamaan. Cere Gancet, Empyak Satangkep, Gedhang Salirang dan Gedhang Setangkep adalah contoh rumah tradisional yang memiliki kesamaan. Keempat rumah tradisional ini terdiri dari dua rumah Panggang Pe yang sengaja dirakit. 23. Rumah Adat Panjang Kalimantan Barat Sebagai salah satu daerah di Indonesia, Kalimantan Barat memiliki banyak sumber daya alam seperti hutan hujan tropis dengan berbagai jenis flora dan fauna. Sebagian besar daerah ini telah ditetapkan sebagai kawasan hutan konservasi. Daerah Kalimantan Barat dihuni oleh aneka ragam suku bangsa. Suku bangsa mayoritasnya yaitu Dayak, Melayu dan Tionghoa, selain itu terdapat juga suku-suku bangsa lain, antara lain Bugis, Jawa, Madura, Minangkabau, Sunda, Batak. Rumah tradisional yang ada yaitu rumah panjang di Kalimantan Barat umumnya disebut Betang, adalah suatu bangunan tradisional yang dimiliki oleh beberapa kelompok Dayak yang ada di Kalimantan Barat. Pembagian ruangan atau bilik yang ada didalam Betang mencerminkan stratifikasi dari sistem yang unik dari masyarakat yang tinggal di dalamnya. Bagian tengah dari betang adalah untuk aktivitas yang bersifat publik, sedangkan bagian depan digunakan untuk menjemur padi dan komoditas lainnya. Ruang belakang biasanya untuk keperluan memasak, tidur dan tempat berkumpul bagi seluruh anggota keluarga. Pemisahan ruangan ini mencerminkan pemisahan antara wilayah sosial, individu dan fasilitas umum. 24. Rumah Adat Betang Kalimantan Barat Rumah tradisional Betang dihuni oleh keluarga besar orang Dayak sehingga sangat besar. Rumah Betang memiliki panjang 150 meter dan lebar 30 meter dan bahkan ada juga yang lebih besar dari itu. Keunikan rumah tradisional di Kalimantan Barat ini dapat dilihat dari bentuknya yang sangat bervariasi tergantung dari jumlah anggota keluarga. Rumah tradisional Betang di Kalimantan Barat dibangun dalam bentuk pemandangan setinggi tiga sampai lima meter dari permukaan tanah. Tujuan membangun rumah dari bawah ke atas adalah untuk mengantisipasi datangnya banjir. Masyarakat umumnya akan hidup bersama dan dipersatukan dalam satu rumah untuk beberapa generasi atau tradisi. Setiap rumah tangga atau keluarga akan tinggal di kabin atau kamar yang telah ditutup di rumah Betang yang besar. Selain itu, suku Dayak umumnya memiliki beberapa rumah individu yang dibangun sementara yang dapat digunakan untuk kegiatan lapangan. Rumah terpisah ini dibangun karena jarak antara sawah dan daerah perumahan yang cukup jauh. 25. Rumah Adat Betang Muara Mea Kalimantan Tengah Seperti halnya nama bangunannya, rumah ini berlokasi di desa Muara Mea. Rumah betang Muara Mea dibangun oleh para suku Dayak yang tinggal di sekitar Gunung Purei. Berbeda dengan tambaba, desain dan arsitektur rumah ini terkesan lebih modern. Pada dindingnya diberi cat dan dilukis. Jika Anda mengamatinya dengan seksama, gambarnya yang terdapat pada dinding menggambarkan identitas suku Dayak. Beberapa wisatawan yang datang ke rumah tradisional ini, biasanya sambil mengunjungi Taman Nasional Gunung Lumut yang letaknya tidak begitu jauh dari Muara Mea. Lingkungan di sekitar bangunan adat ini memang masih terlihat alami karena masih dipenuhi rerumputan dan pepohonan. 26. Rumah Adat Banjar atau Bubungan Tinggi Kalimantan Tengah Rumah Banjar adalah rumah tradisional suku Banjar. Arsitektur tradisional ciri-cirinya antara lain mempunyai perlambang, mempunyai penekanan pada atap, ornamental, dekoratif dan simetris. Menurut Idwar Saleh 19845 Rumah tradisonal Banjar adalah type-type rumah khas Banjar dengan gaya dan ukirannya sendiri mulai sebelum tahun 1871 sampai tahun 1935. Umumnya rumah tradisional Banjar dibangun dengan ber-anjung ba-anjung yaitu sayap bangunan yang menjorok dari samping kanan dan kiri bangunan utama karena itu disebut Rumah Baanjung. Anjung merupakan ciri khas rumah tradisional Banjar, walaupun ada pula beberapa type Rumah Banjar yang tidak ber-anjung. Tipe rumah yang paling bernilai tinggi adalah Rumah Bubungan Tinggi yang biasanya dipakai untuk bangunan keraton Dalam Sultan. Jadi nilainya sama dengan rumah joglo di Jawa yang dipakai sebagai keraton. Keagungan seorang penguasa pada masa pemerintahan kerajaan diukur oleh kuantitas ukuran dan kualitas seni serta kemegahan bangunan-bangunan kerajaan khususnya istana raja Rumah Bubungan Tinggi. Dalam suatu perkampungan suku Banjar terdiri dari bermacam-macam jenis rumah Banjar yang mencerminkan status sosial maupun status ekonomi sang pemilik rumah. Dalam kampung tersebut rumah dibangun dengan pola linier mengikuti arah aliran sungai maupun jalan raya terdiri dari rumah yang dibangun mengapung di atas air, rumah yang didirikan di atas sungai maupun rumah yang didirikan di daratan, baik pada lahan basah alluvial maupun lahan kering. 27. Rumah Adat Lamin Kalimantan Timur Rumah Lamin berbentuk panggung setinggi 3 meter dari tanah dan dihui 25 hingga 30 kepala keluarga. Ujung atap rumah ini diberi hiasan kepala naga sebagai simbol keagungan, budi luhur, dan kepahlawanan. Halaman rumahnya diisi oleh patung-patung Blontang yang menggambarkan dewa-dewa sebagai penjaga rumah atau kampung. Rumah Lamin terbagi atas ruangan dapur, tidur, dan ruangan tengah guna menerima tamu atau pertemuan adat. Tangga untuk naik ke dalam rumah terbuat dari kayu pohon. Bentuk tangga ini tidak berbeda antara rumah para bangsawan dan rakyat biasa. Dinding rumah lamin terbuat dari kayu yang diselingi daun rumbia. Sementara itu, kolong rumah panggung ini digunakan untuk memilihara ternak. Rumah adat yang satu ini berasal dari Kalimantan Timur. Rumah adat suku dayak yang dinamakan rumah lamin ini merupakan rumah panggung yang panjang dan sambung menyambung, terdiri dari banyak kamar yang ditempati banyak anggota keluarga, bahkan dapat mencapai lebih dari 100 orang. Bahan bangunan utamanya dari kayu ulin berwarna hitam dan tahan lama. Ruangan los yang panjang berfungsi sebagai tempat pertemuan, upacara adat, dan tempat tidur untuk laki-laki, pemuda, dan tamu laki-laki. Juga terdapat kamar-kamar yang berderet untuk ruang tidur keluarga dan gadis. Ukiran dari rumah lamin ini memiliki ciri yang berpola ukiran abstrak dengan pengulangan garis dan seperti ular naga, burung topeng, kerangka manusia, dll. Desain rumah ini tentu sebagai ciri khas dari rumah-rumah adat di Indonesia. Dimana Terdapat ukiran-ukiran, patung, dan dai bahan bangunannya sendiri yang pada umumnya menggunakan kayu. Bangunan ini memiliki ciri bentukan yang mengulang serta memanjangBerbeda dari rumah adat lainnya. Rumah lamin memiliki sifat yang mengutamakan fungsi dari bangunannya. Tetapi tetap tidak menghilangkan ciri khususnya yang terdapat ukiran pada sisi bangunannya tertentu dan mengandung arti khusus. 28. Rumah Adat Suku Sasak di Lombok NTB Atap rumah Sasak terbuat dari jerami dan berdinding anyaman bambu bedek. Lantainya dibuat dari tanah liat yang dicampur dengan kotoran kerbau dan abu jerami. Campuran tanah liat dan kotoran kerbau membuat lantai tanah mengeras, sekeras semen. Pengetahuan membuat lantai dengan cara tersebut diwarisi dari nenek moyang mereka. Seluruh bahan bangunan seperti kayu dan bambu untuk membuat rumah adat Sasak didapatkan dari lingkungan sekitar mereka, bahkan untuk menyambung bagian-bagian kayu tersebut, mereka menggunakan paku yang terbuat dari bambu. Rumah adat suku Sasak hanya memiliki satu pintu berukuran sempit dan rendah, dan tidak memiliki jendela. Dalam masyarakat Sasak, rumah berada dalam dimensi sakral suci dan profan duniawi secara bersamaan. Artinya, rumah adat Sasak disamping sebagai tempat berlindung dan berkumpulnya anggota keluarga juga menjadi tempat dilaksanakannya ritual-ritual sakral yang merupakan manifestasi dari keyakinan kepada Tuhan, arwah nenek moyang papuk baluk, epen bale penunggu rumah, dan sebaginya. 29. Rumah Adat Lopo NTT Lopo merupakan serambi tempat masyarakat Pulau Timor khususnya suku Dawan Wilayah TTU, TTS, Ambeno-Timor Leste dan sebagian Kupang Timur Laut mengadakan beragam acara. Mulai dari menerima tamu dan semua yang berkunjung ke tempat mereka, berkumpul untuk membicarakan pelbagai persoalan sampai makan sirih-pinang bersama. Lopo juga tempat menenun bagi wanita-wanita Dawan yang telah dewasa. Karya tenunan merupakan prasyarat bagi wanita dewasa untuk masuk dalam kehidupan berkeluarga. Arsitekturnya terdiri dari empat tiang penyanggah yang didirikan di atas dataran bundar dengan atap ilalang serta memiliki langit-langit yang bisa berfungsi sebagai lumbung tempat menyimpan benih untuk musim tanam berikut dan juga menyimpan hasil panen dan berbagai benda lainnya. Pada keadaan terkini di beberapa tempat atap ilalang sudah mulai diganti dengan plat seng. Lopo merupakan salah satu karakteristik Atoni Orang yang mendiami tanah kering, sebutan untuk suku Dawan, salah satu suku terbesar di Timor. 30. Rumah Adat Dulohupa Gorontalo Rumah Adat Dulohupa yang merupakan balai musyawarah dari kerabat kerajaan. Terbuat dari papan dengan bentuk atap khas daerah tersebut. Pada bagian balakangnya terdapat anjungan tempat para raja dan kerabat istana beristirahat sambil melihat kegiatan remaja istana bermain sepak raga. Saat ini rumah adat tersebut berada di tanah seluas + 500 m² dan dilengkapi dengan taman bunga, bangunan tempat penjualan cenderamata, serta bangunan garasi bendi kerajaan yang bernama talanggeda. Pada masa pemerintahan para raja, rumah adat ini digunakan sebagai ruang pengadilan kerajaan. Bangunan ini terletak di Kelurahan Limba, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo. Selain Rumah adat Dulohupa juga ada Rumah Adat Bandayo Pomboide yang terletak di depan Kantor Bupati Gorontalo. Bantayo artinya gedung’ atau bangunan’, sedangkan Pomboide berarti tempat bermusyawarah’ . Bangunan ini sering digunakan sebagai lokasi pagelaran budaya serta pertunjukan tari di Gorontalo. Di dalamnya terdapat berbagai ruang khusus dengan fungsi yang berbeda. Gaya arsitekturnya menunjukkan nilai-nilai budaya masyarakat Gorontalo yang bernuansa Islami. 31. Rumah Adat Bangsal Kencono Jogyakarta Rumah Bangsal Kencono Kraton merupakan salah satu rumah adat Daerah Instimewa Yogyakarta. Selain rumah ini dikenal sebagai tempat tinggal Raja, Bangsal Kencone ketika kita lihat sekilas mirip dengan rumah joglo tetapi ukuran dari rumah ini lebih luas, lebar dan besar. Rumah adat yang kedua dari Yogyakarta ini ada tambahan sedikit arsitektur khas dari Cina, Portugis dan Belanda, tapi secara keseluruhan tetap dapat kita lihat sebagai rumah dengan ciri khas ada dari Jawa. Ciri khas terlihat jelas adalah dari bagian atas, dinding rumah dan juga tiang yang ada dibangunan rumah. Atas dari Rumah Bangsal Kencono memiliki desain yang mirip dengan rumah jawa, untuk bangunannya dan pondasinya tinggi sehingga bagunan harus ditopang dengan 4 buah tiang di bagian tengahnya, tiang ini sering disebut dengan istilah Soko Guru. Bahan yang digunakan untuk membuat genting yang dibuat dari tanah liat atau tanah sirap, sedangkan untuk bagian dinding dan juga tiang dibuat dari kayu yang memiliki kualitas terbaik. Untuk tiangnya biasanya memiliki warna hitam dan hijau tua, dan pada bagian atas umpak batu memiliki warna hitam keemasan. Untuk bahan lantai dibuat dari marmer atau granit dengan memiliki struktur yang lebih tinggi dari permukaan lainnya. Ciri khas Rumah adat Bangsal Kencono Yogyakarta Ukuran Rumah, pada rumah ini memiliki desain mirip dengan padepokan yang bermanfaat untuk tempat tinggal keluarga dari kerajaan pada jaman dahulu, sehingga membuat ukuran dari bangunan rumah memiliki ukuran di setiap ruangan yang besar dan luas atau sesuai dengan kebutuhan dari setiap ruangan. Desain dan Motif Ukiran, pada rumah model ini di halaman utama akan ditanami beberapa jenis tanaman yang hijau, selain itu akan terdapat sangkar burung. Desain ini menunjukan filosofi yang mengutamakan kecintaan kepada alam. Sedangkan untuk motif dominan yang ada pada rumah ini adalah nuansa kejawan yang dipadukan dengan budaya dari bangsa eropa terutama Portugis, Belanda dan China serta juga terdapat nuansa Hindu. Untuk fungsi dari Bangsal Kencono ini cukup banyak, selain digunakan untuk tempat tinggal dari keluarga kerajaan yang berasal dari Yogyakarta, rumah ini juga menjadi tempat atau juga pusat penyelenggraan upacara adat atau ritual keagaman masyarakat sekitar. 32. Rumah Adat Tanean Lanjhang Madura Tanean Lanjhang adalah Permukiman tradisional Madura adalah suatu kumpulan rumah yang terdiri atas keluargakeluarga yang mengikatnya. Letaknya sangat berdekatan dengan lahan garapan, mata air atau sungai. Antara permukiman dengan lahan garapan hanya dibatasi tanaman hidup atau peninggian tanah yang disebut galengan atau tabun, sehingga masing-masing kelompok menjadi terpisah oleh lahan garapannya. Satu kelompok rumah terdiri atas 2 sampai 10 rumah, atau dihuni sepuluh keluarga yaitu keluarga batih yang terdiri dari orang tua, anak, cucu, cicit dan seterusnya. Jadi hubungan keluarga kandung merupakan ciri khas dari kelompok ini. 33. Rumah Gapura Candi Bentar Bali Rumah Gapura Candi Bentar sejatinya merujuk pada bangunan gapura yang menjadi gerbang rumah-rumah adat Bali. Gapura tersebut terdiri dari dua buah candi yang serupa dan sebangun dan membatasi sisi kiri dan sisi kanan pintu masuk ke pekarangan rumah. Gapura-gapura tersebut tidak memiliki atap penghubung pada bagian atasnya sehingga kedua sisinya terpisah sempurna, dan hanya terhubung di baagian dalam olehk-anak tangga yang menjadi jalan masuk. Gapura Candi Bentar dalam arsitektur Bali merupakan sebuah perwujudan bangunan yang berfungsi untuk masuk-keluar dari satu sisi ke sisi lainnya dari luar ke dalam dan atau sebaliknya. Pada awalnya ketika arsitektur Bali masih sesuai dengan keadaan pada masa kerajaan, Gapura Candi Bentar hanya dibangun di lingkungan Puri Istana Raja dan Pura tempat suci agama Hindu. Tidak ditemukan adanya Candi Bentar di perumahan masyarakat kebanyakan. Bentuknya merupakan gapura, atau candi yang terbelah dua tepat di tengah-tengahnya sehingga menjadi bentukan yang simetri. Baik di puri mau pun di pura, Candi Bentarmenempati posisi di areal paling luar, menjadi pembuka jalansekaligus penerimabagi mereka yang akan mengunjungitempat tersebut. Para Undagi yang mengerjaakan bangunan ini sudah memiliki kepekaan yang tinggi terhadap lingkungannya, sehingga hasil yang dicapai sesuai dengan memahami betul, di mana dan kapan Candi Bentar harus tampil megah, tampil normal akrab, kokoh dan sebagainya. Di Pura yang merupakan Kahyangan Jagat seperti Pura Ulun Danu Batur di Kintamani, Bangli, atau di Pura Besakih Karangasem, tampak bahwa Gapura Candi Bentar berdiri kokoh, besar, tinggi atau dengan kata lain megah. Areal Pura yang luas dan topografi yang tidak rata rendah di arah luar, dan meninggi menuju ke areal Pura yang lebih di dalam, ikut mendukung kemegahan yang terwujud. Dalam teori modern, para undagi telah memperhitungkan dan menerapakan beberapa aspek estetika, dalam hal ini skala dan proporsi. 34. Rumah Adat Karampuang Sulawesi Selatan Bangunan ini merupakan rumah purba yang konon merupakan tempat bertemunya raja-raja dari Suku Makassar Karaeng dan raja-raja dari Suku Bugis Puang, sehingga akhirnya disebut Karaengpuang atau Karampuang, berada di Kecamatan Bulupoddo, berjarak 30 km tepatnya di Desa Tompobulu, dan dapat ditempuh selarna 1 jam dengan menggunakan mobil atau sepeda motor. Rumah purba Karampuang mengikuti model rumah adat Bugis Makassar. Keunikan dari Rumah ini antara lain Tiangnya terbuat dari kayu bitti, antara pasak dengan tiang tidak dipaku, lantai terbuat dari bambu yang hanya diikat dengan rotan pada pasak, serta tangganya berada di bawah kolong rumah bagian tengah, sehingga pintu rumah dibuka dari bawah, dan dapur berada di bagian depan setelah pintu dibuka. Setiap tahun pada Bulan Nopember diadakan upacara adat Mappogau Sihanua yang dilaksanakan oleh pemimpin adat, dengan menggelar berbagai atraksi. Lain lagi dengan atraksi Maddui yang digelar jika ada tiang/ kayu dari rumah adat yang rusak dan harus diganti olch kayu yang baru denganjenis sama yang harus dicari dan ditarik dari dalam hutan selama satu hari menuju kerumah adat. Kegiatan ini dipimpin oleh pemimpin adat dan dilakukan dengan prosesi adat, serta melibatkan masyarakat di kawasan rumah adat. Selain atraksi ini, jehisseni dan budaya tradisional di Kabupaten Sinjai yaitu tarian tradisional Pasere Pitupitu, tari Massellung Tana, Tari Maddongi, dan tari Marumatang. Secara fisik, bentuk rumah adat Karampuang tidak jauh berbeda dengan rumah orang bugis pada umumnya, yaitu rumah panggung yang terbuat dari kayu. Akan tetapi, rumah adat ini memiliki nilai lebih karena keunikan yang dimilikinya, yakni ia disimbolkan sebagai sosok wanita anggun. Rumah adat Karampuang memiliki ukuran 15×11 meter dengan tinggi ± 12 meter. Jika kebanyakan rumah bugis memiliki tangga dan pintu tepat dibagian depan rumah atau menyamping searah lebar rumah, maka rumah adat Karampuang tidak demikian. Rumah adat ini memiliki pintu masuk tepat berada di tengah-tengah rumah. Penempatan pintu dan tangga ini merupakan simbol kelamin wanita vagina, atau “pintu bunga mawar” tempat orang pertama kali keluar dari rahim dan menghirup udara segar. Pintu masuk tersebut dinamakan batu lappa. Karena posisi pintu yang rata dengan lantai rumah, maka untuk membukanya harus di dorong ke atas atau menolaknya ke atas untuk menggeser pemberat yang terikat dengan pintu. 35. Rumah Adat Tongkonan Toraja Sulawesi Selatan Rumah asli Toraja disebut Tongkonan, berasal dari kata tongkon yang berarti duduk bersama-sama. Tongkonan selalu dibuat menghadap kearah utara, yang dianggap sebagai sumber kehidupan. Berdasarkan penelitian arkeologis, orang Toraja berasal dari Yunan, Teluk Tongkin, Cina. Pendatang dari Cina ini kemudian berakulturasi dengan penduduk asli Sulawesi Selatan. Tongkonan berupa rumah panggung dari kayu, dimana kolong di bawah rumah biasanya dipakai sebagai kandang kerbau. Atap tongkonan berbentuk perahu, yang melambangkan asal-usul orang Toraja yang tiba di Sulawesi dengan naik perahu dari Cina. Di bagian depan rumah, di bawah atap yang menjulang tinggi, dipasang tanduk-tanduk kerbau. Jumlah tanduk kerbau ini melambangkan jumlah upacara penguburan yang pernah dilakukan oleh keluarga pemilik tongkonan. Di sisi kiri rumah menghadap ke arah barat dipasang rahang kerbau yang pernah di sembelih, sedangkan di sisi kanan menghadap ke arah timur dipasang rahang babi. Di depan tongkonan terdapat lumbung padi, yang disebut alang. Tiang-tiang lumbung padi ini dibuat dari batang pohon palem bangah yang licin, sehingga tikus tidak dapat naik ke dalam lumbung. Di bagian depan lumbung terdapat berbagai ukiran, antara lain bergambar ayam dan matahari, yang merupakan simbol untuk menyelesaikan perkara. Dalam paham orang Toraja, tongkonan dianggap sebagai ibu, sedangkan alang adalah sebagai bapak. Tongkonan berfungsi untuk rumah tinggal, kegiatan sosial, upacara adat, serta membina kekerabatan. Bagian dalam rumah dibagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian utara, tengah,dan selatan. Ruangan di bagian utara disebut tangalok, berfungsi sebagai ruang tamu, tempat anak-anak tidur, juga tempat meletakkan sesaji. Ruangan bagian tengahdisebut Sali, berfungsi sebagai ruang makan, pertemuan keluarga, tempat meletakkan orang mati, juga dapur. Adapun ruangan sebelah selatan disebut sumbung, merupakan ruangan untuk kepala keluarga. Ruangan sebelah selatan ini juga dianggap sebagai sumber penyakit. 36. Rumah Adat Souraja Sulawesi Tengah Rumah souraja berbentuk rumah panggung yang ditopang sejumlah tiang segiempat dari kayu; beratap bentuk piramide segitiga bagian depan dan belakang ditutup dengan papan berukir panapiri serta pada ujung bubungan bagian depan dan belakang berhias mahkota berukir bangko-bangko. Bangunan terbagi atas tiga ruangan, yaitu ruang depan lonta karawana untuk menerima tamu dan untuk tidur tamu yang menginap; ruang tengah lonta tatangana untuk tamu keluarga; serta ruang belakang lonta rorana, untuk ruang makan, meskipun kadang-kadang ruang makan berada di lonta tatangana. Tempat tidur perempuan dan anak gadis berada di pojok belakang lonta rorana. Dapur avu, sumur, dan jamban berada di belakang sebagai bangunan tambahan yang dihubungkan melalui hambate, yang berarti jembatan, ke rumah induk. 37. Rumah Adat Buton Sulawesi Tenggara Rumah adat Buton atau Buton merupakan bangunan di atas tiang, dan seluruhnya dari bahan kayu. Banguanannya terdiri dari empat tingkat atau empat lantai. Ruang lantai pertama lebih luas dari lantai kedua. Sedangkan lantai keempat lebih besar dari lantai ketiga, jadi makin keatas makin kecil atau sempit ruangannya, tapi di lantai keempat sedikit lebih melebar. Seluruh bangunan tanpa memakai paku dalam pembuatannya, melainkan memakai pasak atau paku kayu. Tiang-tiang depan terdiri dari 5 buah yang berjajar ke belakang sampai delapan deret, hingga jumlah seluruhnya adalah 40 buah tiang. Tiang tengah menjulang ke atas dan merupakan tiang utama disebut Tutumbu yang artinya tumbuh terus. Tiang-tiang ini terbuat dari kayu wala da semuanya bersegi empat. Untuk rumah rakyat biasa, tiangnya berbentuk bulat. Biasanya tiang-tiang ini puncaknya terpotong. Dengan melihat jumlah tiang sampingnya dapat diketahui siapa atau apa kedudukan si pemilik. Rumah adat yang mempunyai tiang samping 4 buah berarti rumah tersebut terdiri dari 3 petak merupakan rumah rakyat biasa. Rumah adat bertiang samping 6 buah akan mempunyai 5 petak atau ruangan, rumah ini biasanya dimiliki oleh pegawai Sultan atau rumah anggota adat kesultanan Buton. Sedangkan rumah adat yang mempunyai tiang samping 8 buah berarti rumah tersebut mempunyai 7 ruangan dan ini khusus untuk rumah Sultan Buton. 38. Rumah Adat Baileo Maluku Jika anda memasuki satu desa atau kampung di Maluku, salah satu hal yang segera nampak menonjol adalah satu bangunan yang berbeda dengan kebanyakan rumah penduduknya. Bangunan ini biasanya berukuran lebih besar, dibangun dengan bahan-bahan yang lebih baik, dan dihias dengan lebih banyak ornamen. Karena itu, bangunan tersebut biasanya sekaligus juga merupakan marka utama landmark kampung atau desa yang bersangkutan, selain mesjid atau gereja. Bangunan itu adalah rumah adat yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda-benda suci, tempat upacara adat, sekaligus tempat seluruh warga berkumpul membahas masalah-masalah yang mereka hadapi. Di Maluku, disebut sebagai “Baileo”, secara harafiah memang berarti “balai”. Baileo Maluku menggunakan istilah “baileo” sebagai namanya, karena memang dimaksudkan sebagai “balai bersama” organisasi rakyat dan masyarakat adat setempat untuk membahas berbagai masalah yang mereka hadapi dan mengupayakan pemecahannya. Bangunan bailem sebagai bangunan induk aslinya tidak berdinding dan merupakan rumah panggung, yakni lantainya tinggi di atas permukaan tanah. Adapula bailem yang lantainya di atas batu semen dan bailen yang lantainya rata dengan tanah. Di antara ketiga macam bailen ini yang paling lazim dan paling khas adalah yang lantainya dibangun di atas tiang. Jumlah tiangnya melambangkan jumlah klen-klen yang ada di desa tersebut. Bailen ini tidak berdinding mengandung maksud roh-roh nenek moyang mereka bebas masuk keluar bangunan tersebut. Sedang lantai bailen dibuat tinggi dimaksudkan agar kedudukan tempat bersemayam roh-roh nenek moyang tersebut lebih tinggi dari tempat berdiri rakyat di desa itu. Selain rakyat akan mengetahui bahwa permusyawaratan berlangsung dari luar ke dalam dan dari bawah ke atas. 39. Rumah Adat Hibualamo Maluku Utara Rumah Adat Hibualamo diresmikan pada bulan April 2007 dan berfungsi sebagai tempat dilaksanakannya upacara-upacara adat dan sebagai tempat pertemuan pemimpin dan rakyat. Hibualamo memiliki makna universal yakni sebagai pusat kekerabatan tanpa membedakan asal-usul seseorang selama ia menerima nilai-nilai budaya masyarakat Hibualamo. Dari sisi arsitektur, bangunan tradisional ini memiliki ciri khas berbentuk delapan sudut dengan pintu masuk mengarah ke empat mata angin. Orang Tobelo mengistilahkan dengan “wange mahiwara”, pintu bagian timur, “wange madamunu”, pintu bagian barat, “koremie”, pintu bagian utara, dan “korehara”, pintu bagian selatan. Keempat pintu yang menghadap ke keempat mata angin memiliki arti bahwa orang yang datang ke Hibualamo berasal dari berbagai penjuru mata angin yang melambangkan keterbukaan. Siapa saja yang datang akan diterima di Hibualamo. Rumah adat ini sudah mengalami modifikasi dari bentuk aslinya dan merupakan simbol rekonsiliasi dan persatuan bagi masyarakat Halmahera Utara. Di lokasi yang sama juga terdapat bangunan perahu Korakora raksasa yang adalah perahu tradisional asli Tobelo-Galela. 40. Rumah Adat Honai Papua Rumah adat Masyarakat Papua, atau yang biasa disebut dengan Honai. Honai adalah rumah khas Papua yang dihuni oleh Suku Dani. Rumah Honai terbuat dari kayu dengan atap berbentuk kerucut yang terbuat dari jerami atau ilalang. Honai mempunyai pintu yang kecil dan tidak memiliki jendela. Sebenarnya, struktur Honai dibangun sempit atau kecil dan tidak berjendela bertujuan untuk menahan hawa dingin pegunungan Papua. Honai terdiri dari 2 lantai yaitu lantai pertama sebagai tempat tidur dan lantai kedua untuk tempat bersantai, makan, dan mengerjakan kerajinan tangan. Karena dibangun 2 lantai, Honai memiliki tinggi kurang lebih 2,5 meter. Pada bagian tengah rumah disiapkan tempat untuk membuat api unggun untuk menghangatkan diri. Rumah Honai terbagi dalam tiga tipe, yaitu untuk kaum laki-laki disebut Honai, wanita disebut Ebei, dan kandang babi disebut Wamai. 41. Rumah Adat Nias Kepulauan Nias, Sumatra Utara Rumah adat Nias bahasa Nias Omo Hada adalah suatu bentuk rumah panggung tradisional orang Nias, yaitu untuk masyarakat pada umumnya. Selain itu terdapat pula rumah adat Nias jenis lain, yaitu Omo Sebua, yang merupakan rumah tempat kediaman para kepala negeri Tuhenori, kepala desa Salawa, atau kaum bangsawan. Rumah panggung ini dibangun di atas tiang-tiang kayu nibung Oncosperma tigillarium yang tinggi dan besar, yang beralaskan rumbia Metroxylon sagu. Bentuk denahnya ada yang bulat telur di Nias utara, timur, dan barat, ada pula yang persegi panjang di Nias tengah dan selatan. Bangunan rumah panggung ini tidak berpondasi yang tertanam ke dalam tanah, serta sambungan antara kerangkanya tidak memakai paku, hingga membuatnya tahan goyangan gempa. Ruangan dalam rumah adat ini terbagi dua, pada bagian depan untuk menerima tamu menginap, serta bagian belakang untuk keluarga pemilik rumah. Di halaman muka rumah dahulu biasanya terdapat patung batu, tempat duduk batu untuk berpesta adat, serta di lapangan desa ada batu-batu besar yang sering dipakai dalam upacara lompat batu. Saat ini peninggalan batu dari masa Megalitik seperti itu yang keadaanya masih baik dapek dilihat di desa-desa Bawomataluwo jo Hilisimaetano. Ada sejenis rumah adat tertentu yang dahulu dipakai khusus untuk rumah berhala-berhala orang Nias, yang dinamakan Osali. Karena di saat ini sebagian besar masyarakat Nias telah memeluk agama Kristen Protestan, maka nama itu dipakai pula untuk menyebut gereja. Demikianlah pembahasan mengenai 41 Rumah Adat Pada 34 Provinsi Di Indonesia Lengkap Dengan Gambar dan Keterangan Penjelasannya semoga dengan adanya ulasan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan kalian semua, terima kasih banyak atas kunjungannya. 🙂 🙂 🙂 Baca Juga Suku Minangkabau – Sejarah, Kebudayaan, Adat Istiadat, Kekerabatan, Bahasa, Makanan, Pakaian, Rumah Adat Suku Nias – Rumah Adat, Bahasa, Kepercayaan, Marga, Asal Usul, Mata Pencaharian, Baju Adat, Alat Musik, Budaya, Makanan Dan Minuman Nama Rumah Adat Tradisional Di Pulau Jawa Paling Terkenal Nama Rumah Adat – Papua, Jawa, Daerah, Aceh,34 Provinsi “Senjata Adat Tradisional ” Pengertian & Contoh – Fungsi – Bagian Suku Dayak Sejarah, Kebudayaan, Adat Istiadat, Dan Sistem Kepercayaan Beserta Bahasanya Secara Lengkap Suku Sunda – Sejarah, Kebudayaan, Pakaian, Rumah, Tari, Kepercayaan, Kekerabatan, Bahasa, Makanan Mungkin Dibawah Ini yang Kamu Cari Pulau Sumatera memiliki budaya yang sangat kaya karena suku-suku yang ada di pulau tersebut juga sangat beragam. Mereka berada tersebar di berbagai provinsi dan memiliki corak budaya masing-masing. Tidak jarang, budaya yang masih lestari ini juga dianggap menjadi ikon provinsi dimana mereka berada. Sebut saja seperti Rumah Bolon yang identik yang menjadi rumah adat Provinsi Sumatera Utara serta Rumah Gadang sebagai rumah adat Provinsi Sumatera Barat. Berbagai Jenis Rumah Adat di Pulau Sumatera1. Rumah Adat di Provinsi Sumatera Utaraa. Rumah Bolonb. Rumah Karoc. Rumah Pakpakd. Rumah Mandailinge. Rumah Simalungunf. Rumah Niasg. Rumah Angkolah. Rumah Melayui. Rumah Balai Batak Toba2. Rumah Adat di Provinsi Sumatera Selatana. Rumah Cara Gudangb. Rumah Limasc. Rumah Rakitd. Rumah Tatahane. Rumah Kilapanf. Rumah Padu Kingkingg. Rumah Padu Amparh. Rumah Ulu Ogani. Rumah Ulu Komering3. Rumah Adat di Provinsi Sumatera Barata. Rumah Gadang Gajah Maharamb. Rumah Gadang Gonjong Limoc. Rumah Gadang Surambi Papekd. Rumah Gadang Batingkeke. Rumah Gadang Surambi Acehf. Gonjong Sibak Bajug. Gonjong Anamh. Gonjong Ampek Baanjuang4. Rumah Adat di Provinsi Aceh5. Rumah Adat di Provinsi Kepulauan Riaua. Rumah Balai Selaso Jatuhb. Rumah Selaso Jatuh Kembarc. Rumah Melayu Atap Lontikd. Rumah Melayu Atap Limas Potonge. Rumah Melayu Lipat Kajangf. Rumah Belah Bubung6. Rumah Adat di Provinsi Jambia. Rumah Kajang Lekob. Rumah Tuo Rantau Panjang7. Rumah Adat di Provinsi Bengkulu8. Rumah Adat di Provinsi Lampunga. Rumah Nuwou Sesatb. Rumah Nuwou Balakc. Rumah Nuwou Lunikd. Rumah Lamban Balake. Rumah Lamban Pesagi9. Rumah Adat di Provinsi Bangka Belitunga. Rumah Limasb. Rumah Rakitc. Rumah Panggung Berbagai Jenis Rumah Adat di Pulau Sumatera Nah, apa kamu tahu, bahwa ternyata rumah-rumah adat di Pulau Sumatera ini ada banyak sekali jenisnya? Berikut daftar contoh rumah adat di Pulau Sumatera yang dilengkapi dengan gambar, foto, dan keterangannya! 1. Rumah Adat di Provinsi Sumatera Utara Rumah Bolon memang dikenal sebagai rumah adat Provinsi Sumatera Utara. Namun rumah adat ini masih memiliki banyak jenis. Berikut jenis-jenis rumah adat Sumatera Utara dengan penjelasan singkat dan ciri khasnya. a. Rumah Bolon Sumber Secara arsitektur, rumah tradisional ini mengusung konsep panggung dan berbentuk segi empat. Beberapa bagian yang menjadi ciri khas dari rumah ini adalah memiliki atap melengkung seperti pelana kuda dan memakai kayu sebagai material utama bangunan yang setiap bagiannya disambung menggunakan pasak dan tali. Rumah adat ini juga memiliki ornamen yang sarat akan filosofi, diantaranya adalah pinar barospati yang menyimbolkan persaudaraan, pinar appul-appul yang melambangkan rencana nyata dan matang, dan tukkot matua sebagai pesan untuk terus menjaga kesehatan. b. Rumah Karo Sumber Rumah tradisional yang memiliki nama lain Siwaluh Jambu ini mengusung konsep rumah panggung. Bagian yang menjadi ciri dari rumah ini adalah atapnya yang berbentuk segitiga dan trapesium. Pada ujung atapnya juga terdapat kerbau yang memiliki manfaat sebagai hiasan dan penolak bala. c. Rumah Pakpak Sumber Rumah adat yang dimiliki oleh masyarakat Suku Batak Pakpak ini memiliki keunikan pada bagian atapnya yang berbentuk lengkung seperempat lingkaran. Dimana bentuk ini memiliki filosofi petarik-tarik mparas igongken ndegol” atau memikul beban berat dalam mempertahankan adat istiadat Suku Batak Pakpak. d. Rumah Mandailing Sumber Rumah tradisional ini biasanya ditemui di daerah bagian Utara Provinsi Sumatera Utara. Ciri khas dari rumah ini adalah jendela dan pintu yang berbentuk panel serta balok-balok kayu penopang rumah yang diletakkan di atas batu pipih. Rumah Mandailing ini juga terdapat dua jenis, yaitu bagas godang dan sopo godang. e. Rumah Simalungun Sumber Rumah tradisional Simalungun ini banyak ditemukan di daerah Pematang Siantar, Sumatera Utara. Ciri khas yang dimiliki oleh bangunan dengan konsep rumah panggung ini terletak pada bagian balok-balok horizontal penopang rumah yang biasanya dicat secara khusus oleh pemilik rumah. f. Rumah Nias Sumber Rumah adat Suku Batak nias ini dapat dibagi menjadi dua jenis. Pertama adalah Omo Hada dengan pemilik masyarakat biasa dan memiliki ciri khas berupa tiang penyangga rumah yang berjumlah enam buah. Kedua adalah Omo Sebua dengan pemilik para bangsawan atau kepala desa dan berciri khas atap menjulang. g. Rumah Angkola Sumber Bentuk fisik Rumah Angkola ini mirip dengan Rumah Mandailing. Namun yang menjadi pembeda adalah penggunaan warna hitam yang dominan pada cat rumah. h. Rumah Melayu Sumber Arsitektur rumah tradisional ini dianggap sebagai refleksi dari kehidupan masyarakat Melayu. Ciri menonjol dari bangunan ini adalah penggunaan cat kuning dan hijau yang dominan. i. Rumah Balai Batak Toba Sumber Rumah Balai Batak Toba ini menggunakan material kayu dan memiliki dua bagian, yaitu jabu parsakitan dan jabu bolon. Di samping itu, atap rumah dianggap sebagai perwujudan dunia dewa, bagian tengah sebagai dunia manusia, dan bagian bawah rumah sebagai dunia iblis dan kematian. 2. Rumah Adat di Provinsi Sumatera Selatan Provinsi Sumatera Selatan memiliki dua etnik yang mempengaruhi arsitektur rumah adat yang ada di provinsi tersebut. Pertama yaitu entik Uluan yang tinggal di daerah dataran tinggi dan berpengaruh pada adanya arsitektur khas rumah Ulu. Kedua adalah etnik Iliran yang berpengaruh terhadap arsitektur khas rumah rakit, limas, dan gudang. Berikut daftar jenis rumahnya! a. Rumah Cara Gudang Sumber Rumah ini memiliki bentuk yang memanjang mirip gudang. Rumah ini juga terbagi menjadi tiga bagian, yaitu depan sebagai tempat kumpul keluarga, tengah untuk menjamu tamu, dan belakang untuk kamar dan dapur. b. Rumah Limas Sumber Rumah Limas berciri khas atap yang berbentuk limas dan juga memiliki undakan kekinjing yang berjumlah antara 2-4 anak tangga. Bangunan ini menghadap ke Timur dan Barat, yang masing-masing sisi rumah tersebut bernama Matoari Edop dan Matoari Mati. c. Rumah Rakit Sumber Rumah yang dibangun di atas rakit ini berbahan utama kayu dan bambu. Ciri khas lain dari rumah ini adalah terdapat lanting atau kumpulan batang bambu yang memiliki fungsi menjaga rumah agar tetap terapung. d. Rumah Tatahan Sumber Keunikan dari rumah adat ini adalah banyak ditemukannya ukiran motif hias yang terdapat di beberapa sudut bangunan. Bagian depan rumah ini digunakan sebagai tempat memasak, sedangkan bagian belakang untuk aktivitas sehari-hari pemilik rumah e. Rumah Kilapan Sumber Rumah yang disebut juga Rumah Gilapan ini memiliki bentuk mirip dengan Rumah Tilapan. Namun yang membedakan adalah dindingnya yang polos dan bangunannya tidak bersekat. f. Rumah Padu Kingking Sumber Rumah ini berbentuk bangunan berupa bujur sangkar. Rumah adat Suku Pasemah yang bermukim di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan ini juga memiliki atap piabung dan juga tiang penyangga yang bernama tiang duduk. g. Rumah Padu Ampar Sumber Rumah tradisional ini memiliki atap seperti pelana kuda yang terbuat dari bambu. Bangunan ini juga memiliki atap trapesium piabung dan memiliki tangga dari bambu. h. Rumah Ulu Ogan Sumber Rumah adat khas Suku Ogan ini memiliki keunikan berupa tritisan yang berada di bagian depan atau samping rumah serta memiliki lantai dengan tinggi yang rata. i. Rumah Ulu Komering Sumber Rumah adat khas Suku Komering ini berciri khas atap pelana tanpa ada lekukan dan bangunannya ditopang tiang-tiang yang ditanam ke tanah. 3. Rumah Adat di Provinsi Sumatera Barat Rumah gadang banyak dikenal sebagai rumah tradisional Minangkabau di Sumatera Barat. Namun rumah adat di provinsi yang beribukota di Padang ini banyak jenisnya. Berikut jenis rumah adat Sumatera Barat dan ciri khasnya! a. Rumah Gadang Gajah Maharam Sumber Rumah adat yang tergolong mewah ini memiliki ciri khas berupa gonjong yang berjumlah lima buah. Rumah ini juga mempunyai pintu di Utara dan Selatan rumah serta memiliki empat buah jendela di sisi Timur dan Barat. b. Rumah Gadang Gonjong Limo Sumber Sumber Rumah adat yang banyak ditemui di Payakumbuh ini memiliki bentuk yang mirip dengan Gajah Maharam. Perbedaannya pada penambahan gonjong di sisi Timur atau Barat rumah. c. Rumah Gadang Surambi Papek Sumber Rumah adat ini memiliki ciri khas pintu yang terletak di belakang rumah. Selain itu, rumah ini juga mempunyai pengakhiran di bagian kanan dan kiri yang disebut bapamoko. d. Rumah Gadang Batingkek Sumber Rumah yang bisa ditemukan di Singkarak, Kabupaten Solok, Sumatera Barat ini memiliki ciri khas berupa struktur gonjong yang bertingkat. e. Rumah Gadang Surambi Aceh Sumber Bangunan rumah model Gajah Maharam ini mempunyai ciri khas berupa gonjong yang sejajar dengan bangunan dan memiliki serambi pada bagian muka rumah. f. Gonjong Sibak Baju Sumber Rumah tradisional yang biasa ditemukan di Desa Pariangan ini memiliki keunikan berupa bentuk gonjong yang pengakhirannya seperti baju yang tersibak. g. Gonjong Anam Sumber Rumah adat ini berarsitektur modern dan memiliki banyak ukiran khas dari Minangkabau. Selain itu, ciri khas rumah ini dapat ditemukan pada jumlah jendela yang banyak serta memiliki salangkonya yang terbuat dari kayu. h. Gonjong Ampek Baanjuang Sumber Rumah ini memiliki ciri khas pada jumlah ruangan yang lebih dari tujuh, mempunyai empat buah gonjong, dan terdapat anjung tambahan pada sisi kanan dan kiri bangunan. Bangunan adat ini dapat ditemukan di daerah Luhak nan Tigo, Padang, Sumatera Barat. 4. Rumah Adat di Provinsi Aceh Sumber Rumah khas Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam ini bernama Rumah Krong Bade. Rumah yang disebut juga dikenal dengan nama rumoh Aceh ini terbagi dalam empat ruangan depan seuramoe keue, tengah seuramoe teungoh, belakang seuramoe ilkot, dan bawah. Khusus pada bagian bawah, biasanya ruang ini digunakan sebagai tempat menyimpan hasil panen dan aktivitas para perempuan, salah satunya meneneun. Pada akses masuk rumah ini terdapat pintu yang cukup pendek dengan tinggi antara 120-150 sentimeter. Hal ini ditujukan agar para tamu yang akan memasuki rumah tersebut harus memberi salam saleum horeumat pada ahli bait tanpa memandang status ekonomi tamu tersebut. Pada bagian depan rumah adat ini juga terdapat gentong air yang diperuntukkan para tamu untuk membasuh kaki. Hal ini bermakna bahwa setiap orang yang datang ke rumah itu harus memiliki niat yang baik dan bersih. Bangunan adat ini pun memiliki filosofi tersendiri, yang diantaranya yaitu muka rumah menghadap ke Barat yang menggambarkan hubungan dengan Tuhan arah kiblat, penggunaan bahan bangunan alami sebagai simbol kedekatan masyarakat Aceh dengan alam, dan jumlah anak tangga ganjil sebagai simbol religiusitas masyarakat Aceh. Di samping itu, rumah tradisional ini juga dapat menjadi sebuah simbol status ekonomi dengan cukup melihat jumlah ukiran pada rumah tersebut. Semakin banyak ukiran yang ada pada rumah adat tersebut, maka menandakan semakin tinggi status ekonomi pemilik rumah. 5. Rumah Adat di Provinsi Kepulauan Riau Berikut daftar rumah adat di Kepulauan Riau beserta penjelasan singkatnya! a. Rumah Balai Selaso Jatuh Sumber Rumah ini difungsikan sebagai tempat musyawarah dan terselenggaranya berbagai acara adat. Bangunan ini memiliki ciri lantai yang lebih rendah dari ruangan tengah dan memiliki selaras keliling. Bangunan balai ini juga dihiasi dengan berbagai motif ukiran, seperti ombak-ombak dan kisi-kisi. b. Rumah Selaso Jatuh Kembar Sumber Rumah ini mempunyai bentuk fisik yang mirip dengan Balai Salaso Jatuh. Bangunan ini difungsikan untuk individu dan memiliki ciri khas berupa dua selaras panjang dan berbentuk persegi panjang. c. Rumah Melayu Atap Lontik Sumber Rumah adat yang memiliki nama lain Rumah Lancang atau Pencalang ini merupakan tempat tinggal khas Suku Melayu di Lima Koto, Riau. Hal unik dari rumah ini adalah hiasan bagian depan rumah yang berbentuk perahu, memiliki anak tangga ganjil, dan terdapat parabung yang lancip ke atas. d. Rumah Melayu Atap Limas Potong Sumber Rumah ini memiliki ciri khas berupa atap limas yang terpotong. Bangunan yang mengusung konsep rumah panggung ini dibangun dengan kayu dan memiliki lima bagian teras, ruang depan, ruang tengah, ruang belakang, dan dapur. e. Rumah Melayu Lipat Kajang Sumber Rumah adat yang sudah jarang ditemui ini berbentuk seperti perahu dan memiliki atap melengkung ke atas yang disebut lipat kejang atau pohon jerambah. f. Rumah Belah Bubung Material rumah ini mayoritas menggunakan bambu dan tinggi lantainya mencapai dua meter dari permukaan tanah. Rumah dengan gaya rumah panggung ini juga memiliki atap dari daun nipah dan dinding dari papan. 6. Rumah Adat di Provinsi Jambi Banyak dari masyarakat Jambi yang berasal dari Suku Batin. Hal ini turut mempengaruhi budaya dan adat setempat, termasuk rumah adat. Berikut dua rumah adat khas Provinsi Jambi dan penjelasan singkatnya. a. Rumah Kajang Leko Sumber Rumah adat ini dibangun dengan konsep rumah panggung dan gaya dari rumah ini disebut Marga Batin. Secara fisik, rumah ini berbentuk persegi panjang dan ditopang oleh 30 tiang. Atap rumah adat ini dibuat dari bahan ijuk dan kayu. Atap rumah ini disebut juga Gajah Mabuk karena bentuknya yang menyerupai kapal dengan ujung melengkung yang disebut potong jerambah atau lipat kajang. Rumah adat ini memiliki tujuh ruangan, yaitu ruang pelamban, gaho, ruang masinding, ruang tengah, ruang menalam, ruang bilik malintang, dan ruang bauman. b. Rumah Tuo Rantau Panjang Sumber Rumah yang memiliki nama lain Rumah Merangin ini terbuat dari kayu dan mengusung konsep rumah panggung. Rumah tradisional ini memiliki ciri khas berupa atap berbentuk segitiga memanjang dengan rangka susun menyilang, dicat dengan warna coklat terang, mempunyai 11 pintu, dan bentuk bangunan yang memanjang ke samping. Rumah ini terdiri dari tiga ruangan, yaitu ruang pertemuan, kamar tidur, dan dapur. 7. Rumah Adat di Provinsi Bengkulu Sumber Rumah adat khas Provinsi Bengkulu adalah Rumah Bubungan Lima dengan bangunan yang terbuat dari kayu Medang Kemuning. Rumah tradisional khas Bengkulu ini juga memiliki nama sebutan lain yang cukup beragam, seperti Hubungan Haji, Bubungan Limas dan Bubungan Jembatan. Atap rumah adat ini terbuat dari ijuk atau bambu yang dilengkapi dengan plafon yang terbuat dari bambu atau kayu. Dinding rumah adat ini terbuat dari papan atau bambu. Sedangkan papan alas rumah ini terbuat dari bilah bambu atau pelupuh datau yang dilengkapi dengan Bidan dengan posisi melintang dengan tujuan untuk menahan hewan liar dari bawah rumah. Selain itu, rumah tradisional ini juga dapat terbagi menjadi delapan bagian yang dibedakan sesuai fungsi masing-masing, yaitu berendo, hall, bilik gedang, bilik gadis, ruang tengah, ruang makan, gerigik, dan dapur. 8. Rumah Adat di Provinsi Lampung Berikut adalah jenis-jenis rumah adat dari Lampung beserta penjelasannya! a. Rumah Nuwou Sesat Sumber Rumah adat yang menggunakan model panggung ini tidak hanya untuk tempat tinggal pribadi, namun juga sebagai tempat musyawarah sekaligus penyelenggaraan berbagai acara adat. Rumah adat yang memiliki nama lain bantaian tersebut memiliki beberapa ciri khas, diantaranya pondasi tiang dari umpak batu persegi, memiliki atap dan bubungan yang memusat pada titik tengah rurung agung, memiliki ruangan bernama tetabuhan sebagai tempat penyimpanan alat musik, dan lantai dari kayu bekhatteh, klutum, dan belasa. b. Rumah Nuwou Balak Sumber Rumah adat ini biasanya digunakan sebagai tempat tinggal penyimbang adat atau ketua adat. Bangunan ini dilengkapi beranda untuk menerima tamu dan dapur terpisah yang dihubungkan dengan bangunan mirip jembatan. Rumah adat ini pun terdiri dari sembilan bagian, yaitu lawang kuri, ijan geladak, rurung agung, anjungan, pusiban, lapang agung, kebik temen, kebik rangek, dan kebik tengah. c. Rumah Nuwou Lunik Rumah adat khas Lampung jenis ini adalah model rumah yang biasanya digunakan oleh masyarakat umum dengan ukuran yang lebih kecil. Ciri khas dari rumah ini adalah tidak memiliki beranda, mempunyai dapur yang menyatu dengan bangunan utama, dan jumlah kamar yang sedikit. d. Rumah Lamban Balak Sumber Rumah adat ini berasal dari etnis Saibatin dengan bentuk struktur rumah mirip dengan Nuwou Balak. Bangunan ini terdiri dari beberapa bagian, seperti jan, bekhanda, lapang luakh, lapang lom, bilik kebik, tebelayakh, sekhudu, panggakh, dapokh, gakhang, dan bah lamban. e. Rumah Lamban Pesagi Sumber Rumah adat ini banyak ditemukan di Provinsi Lampung bagian Barat. Perbedaan yang menjadi ciri khas bangunan ini adalah memiliki kolong yang digunakan sebagai lumbung untuk menyimpan seluruh hasil panen dan rumah ini memiliki tiang dengan ukuran lebih besar dibanding jenis rumah adat Lampung lainnya. 9. Rumah Adat di Provinsi Bangka Belitung Dahulu, provinsi Bangka Belitung merupakan bagian dari wilayah provinsi Sumatera Selatan. Namun kondisi berubah ketika terjadi pemekaran wilayah yang terjadi pada tahun 2000. Oleh karena itu, rumah tradisional yang ada di provinsi ini dapat ditemukan di wilayah lain, terutama Sumatera Selatan. Ini dia tiga rumah adat dari Bangka Belitung. a. Rumah Limas Sumber Keberadaan rumah adat ini akibat dari pengaruh budaya yang dibawa oleh masyarakat Palembang. Bentuk rumah ini sama dengan yang berada di Sumatera Selatan, dengan ciri ciri atap berbentuk limas dan memiliki tinggi lantai yang berbeda atau bengkilas. b. Rumah Rakit Sumber Rumah adat ini juga sama seperti yang ada di Sumatera Selatan, yaitu dengan bahan dari kayu dan bambu. Di Bangka Belitung, rumah ini tidak hanya berada di tepi sungai, tetapi juga berada di dekat pantai. Selain tempat tinggal, rumah ini juga difungsikan sebagai pusat ekonomi dan juga bisnis masyarakat setempat. c. Rumah Panggung Sumber Sesuai namanya, bangunan rumah adat ini menggunakan konsep rumah panggung dengan tiang-tiang penyangganya ditanam ke tanah. Selain itu, rumah ini dibangun dengan material alang-alang, akar pohon, dedaunan, kayu, bambu, rotan serta memiliki atap berbentuk seperti pelana kuda. Secara umum rumah adat ini sangat mirip rumah panggung yang ada di Sumatera Selatan. Namun, perbedaannya yaitu terdapat elemen-elemen hasil akulturasi arsitektur Sumatera Selatan dengan Melayu. Khususnya mengadopsi gaya Melayu Awal, Melayu Bubung Panjang, dan Melayu Bubungan Limas. Demikianlah daftar lengkap rumah adat yang berasal dari berbagai provinsi di Pulau Sumatera. Meskipun masing-masing provinsi tampaknya hanya memiliki satu rumah adat, ternyata masih banyak jenisnya. Semoga bermanfaat!

rumah adat di samping berasal dari provinsi